News Update :
Showing posts with label oase. Show all posts
Showing posts with label oase. Show all posts

Perubahan

Thursday, June 13, 2013

Perubahan. Kosakata yang seringkali terdengar dalam setiap event pergantian manajerial, baik manajemen pribadi maupun individu. Perubahan. Mudah diucapkan, tapi masih sering disalah-pahami oleh kita. Sejalan dengan kecepatan teknologi, perubahan dituntut juga untuk bergerak cepat, seiring selangkah. Kita seolah lupa kalau perubahan itu ada yang memang cepat (revolusi), dan ada juga yang lambat (evolusi).
downloadSuatu perubahan yang lazimnya memang harus lambat karena beberapa hal, kita paksa untuk bergerak cepat. Seolah kata lambat di jaman serba teknologi canggih ini selalu negatif. Lamban = ketinggalan. Ketinggalan = kemunduran. Kemunduran = suram. Pokoknya semuanya serba negatif. Apa iya harus dipersepsikan begitu?Saya pikir tidak.

Tuhan memang mengingatkan bahwasanya Ia tidak akan mengubah kondisi suatu masyarakat, jika orang-orang di dalam masyarakat itu tidak ada usaha untuk berubah dimulai dari diri mereka sendiri (cek QS. Ar Ra’d : 11). Sekedar omdong, bahasa awamnya. Berdoa terus supaya dijauhkan dari segala maksiat dan kemungkaran, tapi sholatnya masih bolong-bolong. Minta diberikan kecerdasan dan keluasan ilmu, tapi belajar saja masih ogah-ogahan. Dalam beberapa hal, perubahan itu butuh proses. Proses itu bisa memakan waktu lama, karena memang sangat prinsipil, tapi ada juga yang cepat. Seperti misalnya sistem kearsipan keraton yang ternyata tidak secepat perkembangan sistem kearsipan di birokrasi modern. Padahal kearsipan Indonesia sudah termasuk lamban perubahannya, tapi toh masih ada yang lebih lamban. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan pihak keraton. Bahkan mungkin kita perlu mempertahankan sistem kearsipan yang terlihat tua itu karena faktor keistimewaan. Ya, bukankah Yogyakarta itu daerah istimewa? Selain karena pola pemerintahannya, sosial budayanya, bisa juga dilihat pada sistem kearsipannya sebagai penunjang kegiatan pemerintahan keraton. 
Alon-alon asal kelakon yang dipegang sebagian besar orang Jawa ini tidak sepenuhnya negatif. Jika memang bisa dipercepat, maka percepatlah. Tapi kalau memang sebaiknya lambat, tahap demi setahap karena faktor tertentu, ya sudah. Yang penting jangan diam. Manusia yang terlalu lama diam, bisa jadi sarang berbagai penyakit, fisik hingga ruhani. Satu yang harus ditekankan, jangan gunakan alon-alon asal kelakon untuk menunda-nunda kewajiban yang bisa kita lakukan saat itu juga. Hobi dengan mepet deadline padahal waktu senggang sangat luas. Siapa bisa jamin satu detik lagi kita masih hidup, hah?

Wallahua'lam…




Rina Rakhmawati

PROBLEMATIKA UMAT

Monday, January 14, 2013

PROBLEMATIKA UMAT

Review materi yang disampaikan pada Up grading Pemandu AAI FIB UGM tgl 8 Desember 2012 oleh Drs. Ariyanto M.Hum.


Berbicara tentang problematika umat Islam, maka akan sangat luas dan panjang bahasan yang dapat didiskusikan bersama. Karena problematika umat telah merambah semua sisi kehidupan.  Sebelum mebahas tentang problematika umat, ada 3 hal yang harus dipahami tentang hakikat seorang muslim:

a.Setiap muslim harus dapat memahami dengan benar nilai-nilai yang terkandung dalam Dinul Islam serta menghayatinya.

Setiap muslim harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ke dalam seluruh ruang kehidupannya.
Setiap muslim harus tunduk dan menyerah kepada Allah SWT, baik lahir maupun batin, dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dengan menerapkan 3 hal di atas, maka seorang muslim telah memasuki rumah Islam secara kaaffah (sempurna).  Dengan degitu, tidak ada sisi kehidupannya yang tidak ia warnai dengan nilai-nilai luhur Islam. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah: 208)

Umat muslim memiliki identitas yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an:

Sebagai umat yang adil

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil  dan pilihan  agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.…” (Al-Baqarah: 143)


Sebagai umat yang terbaik

“Kamu adalah umat yang terbaik  yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali-Imran:110)

Namun seiring berjalannya waktu dengan disertai perubahan zaman yang begitu cepat. Kemajuan segala aspek kehidupan selain membawa manfaat juga membawa masalah. Permasalahan ini sebenarnya diawalai oleh stagnansi umat dalam segala bidang sehingga kemudian dapat dimanfaatkan oleh jaringan konspirasi pihak-pihak yang memusuhi umat Islam, yang kemudian dapat digaris bawahi sebagai Problematika Umat. Secara umum, ada dua jenis problematika umat, yaitu: Problematika Internal dan Problematika Eksternal.

1. Faktor Internal

a. Faktor Keimanan

Iman terletak dalam hati setiap umat muslim yang artinya mempercayai. Dalam kata lain, inilah dasar dalam beragama. Maka dapat dibayangkan jika iman saja sudah mengalami masalah, maka masalah-masalah selanjutnya akan segera mengikuti.

- Terganggunya kemurnian Ibadah. Salah satu yang paling khas di Indonesia adalah akulturasi antara budaya dan agama. Banyak yang mencampur-adukkan ibadah dengan kegiatan kebudayaan yang padahal bersifat syirik. Contohny saja: acara sekaten atau pengkhultusan kerbau putih di Solo. Padahal jelas perintah Allah “Wa maa umiru illa liya’budullaaha mukhlishiina lahud-diin

‘ yang artinya “Tidaklah kamu diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan pengabdian dalam beragama.”  

Rendahnya kualitas keimanan seseorang juga dapat disebabkan karena rendahnya pemahaman pada ajaran Islam.

- Diacuhkannya Al-Qur’an. Dalam surat Al-Furqan ayat 30 : “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”.

Ibnu Taimiyah, mendeskripsikan orang-orang yang mengacuhkan Al-Qur’an ini dalam beberapa kelompok. Kelompok 1 adalah umat muslim yang tidak bisa membaca Al-Qur’an namun tidak pernah berusaha untuk belajar membacanya. Kelompok 2 adalah umat muslim yang bisa membaca Al-Quran, namun tidak atau jarang membacanya. Kelompok 3, umat muslim yang bisa dan rajin membacanya namun tidak mentadabburinya lalu yang terakhir umat muslim yang membca dan mentdabburinya tapi tidak mengamalkannya.

b. Faktor Pendiikan

Salah satu yang menyebabkan kemunduran Islam adalah kebiasaan umat muslim yang mengamalkan sesuatu hanya karena tradisi atau ikut-ikutan. Dengan alasan, “nenek moyang kami dahulu melakukan hal ini, maka kami pun melakukannya”, padahal tidak diketahui sama sekali dalilnya. Hal semacam disebut taqlid, sehingga tidak diperbolehkan karena Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS.Al-Isra:36)

Dikarenakan pengetahuan tentang Islam yang masih sangat rendah, sehingga ibadah yang dilaksanakan masih sebatas secukupnya saja (yang penting sudah dilaksanakan). Contonhya sholat hanya sebatas menggugurkan kewajiban, puasa hanya menahan lapar dan haus dan zakat secukupnya saja. contoh lain adlaah “malas melaksanakan haji” padahal dengan sadar sudah memiliki kemampuan finansial dan fisik yang cukup.

c. Faktor Ilmu Pengetahuan

Faktor ilmu pengetahuan disini lebih condong ke ilmu yang bersifat duniawi, terutama  teknologi. Umat Islam selalu terlihat tertinggal. Tidak mampu menguasai teknologi secara baik sehingga ketika orang-orang kafir, lebih khususnya, ilmuwan sekuler merajai dunia , umat Islam hanya bisa diam tanpa mampu berbuat apa-apa kecuali protes.

d. Faktor Perbedaan Paham/Aliran

Umat Islam juga terpecah karena sudah semakin banyaknya aliran atau paham yang berbeda-beda. Terutama di Indonesia, entah itu golongan, organisasi atau paham aliran, menjamur dimana-mana. Yang menjadi masalah adalah ketika gologan satu merasa selalu lebih baik dari golongan lain sehingga terkadang timbullah knflik dari skala paling kecil hingga paling besar. Dalam hal ini, perlu kesadaran bersama seuruh umat Muslim untuk mengembalikan Islam ke Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga tidak timbul lagi perpecahan semacam ini. Allah berfirman:

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfaal: 46)

e. Lunturnya Ukhuwah

Permasalahn sosial pun menjadi salah satu puncak dari problematika ini. Beberapa masalah paling menyita perhatian adalah:

- Hilagnya persatuan: contohnya tawuran antar pelajar bahkan antar masyarakat dalam satu lingkungan yang makin marak terjadi.

- Keruntuhan moral: Narkoba, minuman keras serta seks bebas sudah menjadi rahasia umum dalam kehidupan sosial Indonesia.

- Perdagangan anak dan seks komersial remaja juga kian marak.

Maka perhatikanlah firman Allah:

(1) “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (al-Maaidaah: 91)

(2) “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’: 32)

Juga hadits nabi:

Dari Abdillah ibnu Umar  ra. berkata, “Rasulullah saw. telah bersabda, ‘Wahai, Kaum Muhajiriin,  ada lima hal yang aku khawatirkan jika menimpa serta menguji kalian, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mendapatkannya. Tidaklah perzinahan merajalela pada suatu kaum hingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan  menyebar  penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi pada umat yang sebelumnya, dan tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran, kecuali akan ditimpa  paceklik serta mahalnya harga kehidupan ditambah dengan pemimpin yang tiran…” (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

2. Faktor Eksternal

a. Invasi pemikiran (Ghazwul Fikr)

Inavsi pemikiran yang dimaksudkan adalah upaya suatu bangsa untuk menguasai pemikiran (konsep) tatanan kehidupan bangsa lain agar bangsa itu mengikuti pandangan hidup bangsa itu (yang menginvasi) dalam hal: idealisme, pandangan hidup, metode pendidikan, kebudayaan, bahasa, etika serta norma-norma kehidupan yang      ditawarkan bangsa penginvasi. Tujuannya adalah untuk menghancurkan umat Islam itu sendiri dengan tergantinya norma agama oleh norma bangasa barat sehingga umat Islam lama-kelamaan akan melupakan dien-nya sendiri.

Langkah kerja mereka adalah:

(1) Merusak Islam dari segi aqidah, ibadah, norma, dan akhlak;

(2) Memecah dan memilah kaum Muslimin di muka bumi dengan sukuisme dan nasionalisme sempit;

(3) Menjelek-jelekkan gambaran (kesan) Islam, misalnya: teroris, poligami, dsb.

(4) Memperdayakan muslim dengan menggambarkan bahwa segala kemajuan kebudayaan dan peradaban dicapai dengan memisahkan ilmu pengetahuan dan agama.

Ghazwul fikr secara umum terkait dengan 3 hal yang paling besar yaitu:

1. Zionisme: sebuah gerakan politik bangsa yahudi yang bertujuan mendirikan negara di tanah palestina dengan tujuan jangka panjang yaitu menguasai dunia dan menciptakan pemerintahan yahudi raya. Merusak citra Islam adalah tujuan dasar mereka melalui berbagai media massa.

2. Orientalisme: sebuah kajian yang dilakukan bangsa barat untuk meneliti negara-negara timur (khususnya Islam) mengenai sosial, budaya, politik, ekonomi dan semuanya. Tujuan awal mereka adalah meniru keberhasilan Islam di masa jayanya dulu ketika bangsa barat tenggelam dalam kegelapan. Motivasi yang muncul kemudian adalah motivasi imperialisme, menjauhkan umat dari Islam dan motibasi ekonomi, memunculkan keraguan dalam Islam.

3. Kristenisasi: secara bahasa adlah upaya untuk mengkristenkan orang lain dan menyebarkan ajarannya ke berbagai bangsa. Namun, bukan hanya pengkristenan, tetapi lebih ke tujuan untuk mengeluarkan orang-orang Islam dari keislamannya. Ingat firman Allah:

“Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (QS. Al-Baqarah: 120)

b. Sekulerisme

Sekulerisme merupakan upaya pemisahan ilmu pengetahuan dengan ilmu agama dengan tujuan untuk menghilangkan peran agama dalam kehidupan terutama dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan sehingga timbullah keraguan kepada agama Islam. Sekulerisme dianggap baik oleh bangsa barat karena merupakan perlawanan dari gereja pada abad pertengahan serta mereka menganggap bahwa keberhasilan Turki karena pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Sekulerisme menganggap agama hanyalah ritual semata dan tidak punya relevansi dengan kehidupan nyata. Selain itu agama dianggap hal yang negatif karena mendorong masyarakat untuk mengabaikan kehidupan aktual mereka.

c. Materialisme

Puncak dari paham ini adalah berlakunya sistem kapitalisme yang mulanya berawal dari pengembangan iptek yang berorientasi pada material. Ironisnya umat muslim sadar atau tidak mengikuti pola ini untuk bertahan dalam kehidupan sosial saat ini dikarenakan keterbelakangan dalam banyak hal. Cara paling umum adalah memberikan pinjaman lalu sebagai imbalannya mereka (bangsa barat) memperoleh hak investasi dan memasok negara muslim dengan harta dan proyek umum . setelah itu pengendalian pola ekonomi akan lebih mudah dilakukan bangsa barat. Puncaknya, setelah ekonomi, pengendalian pun bisa menjalar hingga pendidikan, hukum hingga peradaban.

SOLUSI

Untuk menghadapi berbagai problematika umat dewasa ini, seluruh Umat Islam harus membangun kembali kesadaran akan agamanya dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam setiap dimensi kehidupannya.

Ada tujuh fokus yang sangat mendasar yang   setiap individu muslim harus memperbaiki dirinya dalam hal berikut:

1. Memiliki Ilmu Pengetahuan

Dalam artian memiliki ilmu pengetahuan yang seluas-luasnya untuk membangun peradaban Islam. Secara khusus, ilmu agama tentang syariat-syariat Islam untuk beribadah kepada Allah dalam kehidupan.

Dasarnya adalah:

(1) “…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima  pelajaran.”(Q.S. Az-Zumar:9)

(2) Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)

(3) Imam Syafi’i berkata:

“Sesungguhnya jati diri seorang pemuda—demi Allah—ada dalam  ilmu dan ketakwaannya. Apabila keduanya tidak ada dalam dirinya, maka ia bukanlah pemuda sebenarnya.”

2. Tarbiyah

Pengajaran atau tarbiyah hendaknya dilaksanakan secara kontinyu.

Dasarnya adalah:

(1) “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali-Imran:104)

3. Jihad

Berjihad dengan bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Dasarnya:

“Hai orang-orang yang beriman,

a. ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

b. berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.

Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.

c. Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,

d. dirikanlah sholat, tunaikan zakat,

e. berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Q.S. Al-Hajj : 77-78)

4. Taqwa

Bertaqwa kepada Allah dan Rasulnya dengan memperhatikan 4 aspek:

a. Tanamkan pemahaman bahwa semua umat Muslim bersaudara

b. Santun kepada sesama muslim dan keras kepada orang-orang kafir yang memusuhi umat Islam

c. Hindari taqlid buta pada suatu aliran sehingga dapat memecah belah ukhuwah karena merasa paling benar

d. Ber-Islam kaffah (menerapkan syariat Islam dalam kehidupan)

5. Berantas Sekularisasi

Paham tentang pemisahan Ilmu Agama dan non-Agama ini haruslah diberantas sebab semua urusan dunia tentu berkaitan dengan akhirat. Ilmu agama dan pengtahuan tak bisa dipisahkan sama sekali. Kemajuan ilmu pengtahuan tidak boleh membuat manusia menjadi sombong dan lupa pada sang pencipta.

6. Islamisasi Ilmu pengetahuan

maksudnya adalah penguasaan sains dan ternologi sesuai dengan tuntunan islam serta mengharapkan keberpihakan atau loyalitas ilmuwan muslim kepada agama dan negaranya, serta mengharapkan kepedulian negara, khususnya, pada pengetahuan dan pada ilmuwan. Posisi manusia sebagai khalifah di muka  bumi, seharusnya memelihara bumi demi kesejahteraan umat. Salah satu alatnya adalah dengan ilmu pengetahuan.

7. Lawan kapitalisme

a. Menata perekonomian Islam untuk menangkal paham materialisme dan kapitalisme dengan menerapkan sistem perekonomian yang islami.

b. Mengurangi ketergantungan ekonomi dari pada kapitalisme barat.

c. Berupaya menjadi bangsa mandiri secara ekonomi.

Sebuah Anekdot:

“Sebungkus super Mie bisa lebih berharga dibandingkan dengan akidah dan keimanan.”


picture taken from:justcollege.com

NIAT: HAL UTAMA YANG PALING PENTING SEBELUM BERAKSI

Monday, September 10, 2012

“Nan, sholat di maskam yuk.” Ujar Zendi begitu mendengar adzan ashar.

“Ngapain men. Jauh-jauh. Ini tempat sholat segede gini di depan kita.” Anan menanggapi sambil menunjuk mushola Al-adab Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

“Eh nggak apa-apa. Lebih jauh ngelangkahnya lebih banyak pahalanya”.

Anan pun manut dan mengikuti Zendi menuju Masjid kampus (maskam) UGM melewati pintu masuk kecil di bagian belakang FIB yang hanya dibuka setengah. Mereka pun sholat berjama’ah bersama para jama’ah lainnya di maskam. Setelah berdzikir dan berdoa, Anan dan Zendi yang kebetulan tidak ada kegiatan sore itu duduk-duduk sejenak di beranda maskam UGM.

“Eh lu nyariin apaan sih?” Tanya Anan yang merasa aneh melihat gerak-gerik Zendi

“Apaan?”

“Malah balik nanya. Lu yang apaan tuh celingak-celinguk dari tadi. Ngeliatin ke arah tangga mulu. Jelalatan nyari cewe bening lu ya?”

“Kagak oy. kagak.”

“Yaudah cabut ah. Ayo balik.”

“Sekarang?”

“Taun depan! Ya sekarang lah. yok ah.” Ujar Anan sambil berdiri.

Sambil berjalan menuju parkiran barat maskam, Zendi masih celingukan seperti mencari keberadaan seseorang. Anan merasa ada yang tak beres dengan Zendi.

“Eh nyong! Lu nyari sapa sih? Jangan-jangan nyari Intan?” Ujar Anan menyebutkan nama seorang perempuan yang konon katanya adalah pujaan hati sahabatnya itu. Intan adalah seorang akhwat aktivis super yang kini menempuh studinya di fakultas psikologi.

“Hehe..” Zendi tersenyum kecut sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Wah parah lu. Parah. Nyari cewe di mesjid. Parah lu. Kacau.”

“Ye yang penting kan gue solat jama’ah Nan, ibadah juga. Lagian gue gak sengaja doang tau dia bakal ke maskam jam 3 sore dari Fb.”

“Waduh! Jadi lu niat ngajakin gue kesini tadi cuma nyariin Intan? Wah wah gawat lu.”

“Ye Nan. Kan gue ngajak lu sholat jama’ah juga.”

“Niat awal lu apa heh? Nih baca nih. Sini gue aja yang bawa motor lu. Lu baca tu di jalan yak.” Ujar Anan sembari mengeluarkan secarik buletin kertas at-tauhid yang ia dapat di maskam pada jum’atan lalu dan meraih kunci motor dari genggaman Zendi. Zendi mengamati kertas itu dan mulai larut dalam bacaannya.

Kawan-kawan sahabat muslim, terkadang niat itu adalah sebuah hal yang tak tersadari oleh kita. Niat itu terkadang muncul dengan sendirinya dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pasti kawan-kawan pernah mendengar “Innamal a’malu binniyat”. Dari yang sekedar pernah dengar dari teman, pernah baca, hingga yang benar-benar tahu dan paham akan makna dari kalimat yang sebenarnya merupakan bagian dari ahdist arbain nomor 1 ini. Kalimat ini lebih terkenal daripada keberadaan hadistnya sendiri.  Bahkan nama hadist arbain nomor 1 ini lebih populer dengan sebutan hadist Innamal a’malu binniyat.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]


Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin al-Khaththab radiallahuanhu, dia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap  perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.’” [1]

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya ketika ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

(Riwayat dua imam hadits, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhori dan Abul Husain, Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam kedua kitab Shahiih-nya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah ditulis).

Sabda beliau إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ  ; kata انِّيَّاتِ adalah bentuk jamak dari kata ‘niyyat’, yang secara bahasa berarti maksud dan tujuan. Jika diartikan secara istilah syar’i artinya: kuatnya hati untuk melakukan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan makna niat dalam istilah ada dua:

1.Niat yang terkait dengan ibadah. Yang dimaksudakan adalah niat yang ditujukan untuk ibadah yang membedakan shalat dari puasa, dan membedakan shalat wajib dari sunnah.

2.Niat yang terkait dengan kepada siapa ibadah tersebut ditujukan. Niat dengan pengertian ini dimaksudkan dengan istilah ikhlas.

Niat tidaklah urgent untuk diucapakan atau dilafalkan. Cukup disebutkan dalam hati. Niat adalah amalan hati. “Adapun melafadzkan niat maka tidak dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa jika beliau hendak shalat atau berwudhu mengucapkan “nawaithu an ushalli...(aku berniat untuk sholat...)” atau “Nawaithu an atawadhdha’...(aku berniat untuk wudhu...)”...”.

Jika kita sudah membicarakan niat, terutama niat baik maka kita tidak akan bisa menghindar dari pembicaraan ‘sang musuh’-nya niat yaitu riya’. Bukan perkara baru riya’ itu selalu mencampuri keberadaan niat awal kita. apabila niat ikhlas tercampur riya’, ada tiga keadaan:

1.Jika niat utama yang mendorong seseorang melakukan sebuah amalan adalah riya’, maka hal ini adalah syirik dan amalannya sudah batal.

2.Ketika akan beribadah awalnya ikhlas, tapi di tengah tercampur riya’, maka ada dua keadaan:

a.Jika ia berusaha melawan rasa riya’ tersebut dan tidak terus menerus dalam rasa riya’, maka riya’ tersebt tidak berpengaruh pada amalannya.

b.Jika ia tidak berusaha melawannya dan terus berada dlam riya’nya maka jika ibadah tersebut tidak terangkai dengan bagian awalnya maka amalan yang tercampur riya’ itu batal dan yang tidak menjadi sah.

3.Jika riya’ muncul setelah ibadah, maka tidak membatalkan.

Tujuan adanya niat dalam suatu ibadah adalah untuk menjadi pembeda antara suatu perbuatan yang hanya merupakan adat kebiasaan (yang tidak bernilai pahala) dengan suatu amal ibadah (yang bernilai pahala). Tujuan lainnya adalah untuk menjadi pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya.

Sangat sulit menciptakan niat ikhlas dalam berbuat sesuatu hanya untuk Allah SWT. Kenapa? Karena sesungguhnya niat itu sendiri tak bisa diciptakan dengan sengaja. Ia terbentuk dengan sendirinya dari hati yang terdalam. Coba perhatikan perbedaan kalimat dua orang ini:

1.A : Kamu ngapain susah-susah angkat-angkat meja?

B: Kasihan gue lihat lu pade nggak ada yang bantuin. Gue bantu aja lah. itung-itung pahala.

2.A: Kamu ngapain susah-susah angkat-angkat meja?

B: Mau gue angkat meja kek, angkat kursi kek, angkat besi kek, kalo gue mau ya terserah gue.

Silahkan dinilai dari ujaran “B” diatas. Mana yang lebih mengandung unsur keikhlasan atau kedua-duanya malah sama. Ingat, sangat sulit membedakan niat yang ikhlas dengan yang tidak apalagi jika hanya dengan mencermati kalimat.

Niat menjadi suatu hal yang sangat penting namun sering terlupakan. Karena itu, apapun yang akan kita lakukan hendaknya kita awali dulu dengan meluruskan niat menuju niat yang baik dan tertuju hanya untuk Allah SWT.  Jadi bagaimana niat anda, kawan?

Wallahu’alam.

Referensi:

http://salamdakwah.com/baca-artikel/memurnikan-niat.html

Syarah Al-Arba’in An-nawawiyyah fil Ahadits Ash Shahihah an-Nabawiyyah-Majmu’atul Ulama’-hal

31-32 dikutip dari Buletin At-Tauhid edisi 11 tahun 8

At-Tauhid al-Muyassar hal. 97-98 dikutip dari Buletin At-Tauhid edisi 11 tahun 8

Buletin At-Tauhid edisi 11 tahun 8

picture taken from: ruangfana.blogspot.com

Berbagi dengan Menulis

Sunday, September 9, 2012



“Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia dan sesungguhnya, pada jiwa yang berubah terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan” (M.Fauzil ‘Adhim, Inspiring Words for Writers)
Menulis adalah hak semua orang, dan apa saja bisa dituliskan. Bahkan saking banyaknya hal yang bisa dituliskan, kita takkan pernah mampu menuangkan semuanya ke dalam tulisan. Menulis, sejatinya merupakan panggilan jiwa. Ya, sebuah panggilan jiwa untuk berbagi. Panggilan jiwa ini, boleh jadi, pada sebagian orang diwujudkan dengan media lisan, ada pula yang mengungkapnya lewat tulisan. Namun, apa pun kemudian medianya, substansinya sama: berbagi.
Seseorang yang ingin berbagi, tentu saja harus memiliki sesuatu untuk dibagi. Sebagaimana ungkapan, “Teko berisi teh hanya akan mengeluarkan teh dan tidak akan mengeluarkan selainnya,”  maka seseorang tidak akan pernah berbagi sesuatu yang tidak pernah ia punyai. Bagaimana mau memberi jika ia tidak punya?
Hal yang sama agaknya juga berlaku dalam berbagi dengan menulis. Kita tidak akan bisa menuliskan sesuatu yang tidak kita punya konsepnya, sesuatu yang masih samar bagi pikiran kita. Jika pun kemudian kita paksakan, maka hasilnya akan hambar, kering dan tidak enak dibaca, meskipun ia berisi kata berbunga-bunga.
Maka, seringkali selepas membaca sesuatu, baik majalah, artikel atau buku, di benak kita muncul ide-ide yang menanti dituangkan ke dalam tulisan atau sekadar pikiran-pikiran untuk didiskusikan. Terasa tangan kita sudah gatal untuk mengambil pena dan kertas atau duduk di depan komputer mengetikkan kata demi kata. Sesuatu yang wajar dan sangat normal. Pikiran kita baru saja menerima informasi, dan ia menuntut agar informasi itu dibagi.
Barangkali hal itu tidak berbeda dengan ketika kita menyaksikan kejadian-kejadian istimewa, kecelakaan beruntun, binatang ajaib, dan lain-lain yang menurut kita di luar kebiasaan. Selepasnya, tentu kita ingin menceritakannya kepada orang lain. Kita ingin membagi pengalaman kita, merangkai kalimat demi kalimat meski keluarannya hanya melalui lisan. Maka begitu pulalah menulis. Hanya medianya saja yang berbeda.
Itulah fitrah manusia untuk berbagi. Berbagi adalah sesuatu yang menyenangkan, kecuali bagi jiwa yang sudah tidak memiliki kepedulian selain kepada dirinya sendiri. Bahkan jiwa yang semacam itu pun tetap punya hasrat berbagi, meski dengan maksud lain. Agar dipuji, agar dikatakan baik hati, dermawan dan sebagainya.
Berbagi, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kemajuan teknologi telah memudahkan langkah kita untuk berbagi. Dengan kemajuan teknologi, kita bisa terhubung dengan banyak orang secara massal melalui email, jejaring sosial, blog, microblogging dan sebagainya yang memungkinkan berbagi menjadi lebih efektif dan efisien. Seseorang bisa menulis sebuah artikel, lalu mempublishnya ke blog, jejaring sosial dan media lainnya dan bisa segera dibaca oleh orang banyak.
Ya, menulis adalah berbagi. Namun demikian, berbagi punya dimensi-dimensi tersendiri. Ada jenis-jenis berbagi. Ada banyak hal yang bisa kita bagi, tapi tidak semuanya perlu kita bagi, bahkan sebagiannya wajib kita tutup rapat dari kemungkinan dibagi. Apa misalnya?
Misalnya adalah aib. Kita tidak boleh membagi aib. Bahkan harus ditutup rapat-rapat. Jika aib sendiri saja diperintahkan untuk ditutupi, maka apatah lagi aib orang lain. Apakah seseorang bisa menyebarkan aibnya sendiri? Jawabnya bisa, bahkan sangat mungkin. Dengan kemajuan teknologi, sangat mudah menyebarkan aib sendiri. Misalnya menuliskannya pada status FB atau mengunggah foto atau video yang memuat aib kita ke internet.
Ada pula informasi yang lebih baik tidak dibagi kepada umum karena sifatnya yang rawan untuk disalahtafsirkan, atau informasi yang tidak penting untuk diketahui oleh orang banyak. Nah, informasi-informasi semacam ini sebaiknya tidak perlu dibagi, kecuali pada pihak yang tepat. Karena ia hanya akan menjadi beban informasi, dengan kata lain sampah informasi.
Jika demikian, lantas apa yang harus kita tuliskan? Tentu saja ada banyak hal. Tetapi sebagai gambaran, ada koridor tentang hal-hal apa yang bisa kita tuliskan dan bagikan kepada orang lain:
  1. Tulislah sesuatu yang bermanfaat. Ia bisa bersifat informatif, langkah-langkah mengerjakan sesuatu atau hal lain yang dibutuhkan oleh orang lain. Tidak ada batasan tema dalam hal ini. Tema tulisan kita bisa berkisar soal pengalaman sehari-hari, tips-tips melakukan suatu pekerjaan, tentang teknologi atau apa saja. Yang utama adalah informasi itu berguna dan tidak menyesatkan.
  2. Tulislah sesuatu yang engkau kuasai. Bisa seputar persoalan yang seringkali kita hadapi atau solusi atas suatu masalah yang mungkin engkau ketahui. Barangkali di antara pembaca ada yang mengalami persoalan yang sama. Apa saja, meski tak jarang ia terlihat sederhana. Karena solusi yang terlihat sederhana itu mungkin bisa sangat berarti bagi orang yang mengalami.
  3. Tulislah sesuatu yang menginspirasi, membangun semangat, membuat orang yang membacanya menemukan makna-makna baru, baik atas kejadian atau hal baru, atau atas kejadian lama tetapi dengan makna baru, sehingga ia dapat menjalani rutinitas hidupnya dengan lebih dinamis.
  4. Tulislah sesuatu yang mendekatkan diri kepada-Nya. Karena bukankah kita berawal dari-Nya dan berpulang kepada-Nya? Dan untuk ini, tidak ada satu kalimat yang lebih baik dari nasihat, dan nasihat terbaik adalah apa yang kita dapati dalam al-Qur`an.
Asas manfaat adalah poin utama yang perlu diperhatikan. Sebab, buat apa kita menulis jika ternyata tidak membawa manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Apalagi jika tulisan itu hanya akan membuat rantai keburukan yang baru untuk generasi setelah kita. Na’udzubillahi min dzalik.
Tetapi jika dengan tulisan itu ada orang yang merasakan manfaat serta memberikan nilai tambah baginya, maka itulah hakikat berbagi yang sebenarnya. Ada manfaat yang kita semaikan. Dan bukankah manusia terbaik itu adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?
Ibnu Al-Jauzi memberikan sebuah petuah bijak, “Dengan lisan aku hanya bisa menyampaikan ilmu hanya kepada sejumlah orang, sedangkan dengan tulisan aku dapat menyampaikanya kepada orang yang tidak terbatas yang hidup sesudahku.” Ini artinya, jika kita menampilkan tulisan yang baik, yang bermanfaat, yang mengarahkan manusia pada kebaikan dan kedekatan kepada Rabbnya, bukankah ini salah satu aset jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya?
“Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR. Muslim, No. 2674).
Menulis, adalah upaya untuk membangun diri. Menulis menuntut kita lebih banyak memikirkan dan merenungkan, juga mentadabbur segala hal yang terjadi. Karenanya, ia bisa menjadi salah satu upaya kita untuk menghidupkan hati. Karena hati hanya bisa disentuh oleh hati, maka tulisan yang menyentuh, yang menggugah dan memotivasi hanya bersumber dari hati yang sudah hidup, bukan hati yang mati. Maka, memotivasi diri sendiri terlebih dahulu adalah salah satu kunci keistiqamahan dalam berbagi kebaikan. Jadilah teladan, setidaknya untuk cermin diri. Agar diri pun dimampukan dalam berbagi kata. Dengan berbagi, waktu pun tak berlalu sia-sia. Karena, setiap waktu penuh dengan kemanfaatan untuk sesama dan semesta.
Ketika kebaikan sudah diujung jari, jangan ragu untuk menuangkannya ke dalam lembar kehidupan.Karena kebaikan bukan hanya milik kita sendiri. Ya, menulis adalah berbagi. Maka menulislah…
Wallahu a’lam
*Sebuah diskusi aksara antara Farid Ikhsan Asbani dan Fayza Sari, dimuat di fimadani.com

Mempertanyakan Rasa Malu Kita

Wednesday, April 4, 2012


Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya sebagian yang masih diingat orang dari ajaran para nabi terdahulu adalah, ‘Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu’.” (h.r. Bukhari)


Malu, salah satu sifat manusia dan karakter khas bangsa timur yang semakin hari sepertinya semakin punah, tergerus arus globalisasi. Budaya malu seolah menjadi warisan yang mulai banyak ditanggalkan karena dianggap kuno. Untuk apa malu?Ini ‘kan jaman kebebasan!Manusia dibebaskan melakukan apapun, bahkan tidak jarang menerjang batas kepatutan hingga syari’at agama. Jika dulu mencuri uang Rp 100,00 sudah dianggap memalukan, jaman modern mencuri bertrilyun uang rakyat dianggap hal yang lumrah, bahkan pelakunya pun tidak malu untuk berkilah, beradu argumen maupun muncul di tengah khalayak. Tidak hanya di Indonesia, di mana saja ditemui manusia modern, di sanalah budaya malu semakin menipis, hilang sedikit demi sedikit. Tidak malu terhadap sesama manusia, apalagi malu sama Tuhan? Kita seolah kehilangan sosok pemuda layaknya Utsman bin Affan yang memiliki sifat pemalu bahkan membuat para malaikat menjadi segan. Kita pun kehilangan pribadi muslimah seperti putri Nabi Syu’aib yang meskipun malu terhadap lawan jenis, namun ia tak pernah berusaha untuk menarik perhatian Nabi Musa ketika mereka bertemu di sebuah telaga.

Perempuan dan laki-laki yang menganggap dirinya muslim, tidak malu saling memanggil “abi”, “umi”, “suamiku”, “istriku” meskipun belum betul-betul sah dalam ikatan akad sesuai syari’at. Banyak pula akademisi yang terang-terangan menunjukkan sikap plagiarism ketika ujian, bangga dengan gelar dan jajaran nilai “A” namun minim kontribusi. “Eh jangan lupa ya besok aku contekin! Sesama teman harus saling membantu lah…”, apakah ini yang namanya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan?Tidak! Di mana rasa malumu, kawan?

Malu, dalam Islam disebut sebagai sebagian dari Iman. Malu menjadi media penyeru untuk mencegah segala maksiat dan kejahatan. Ia menjadi ciri khas kebaikan yang seharusnya melekat erat dalam diri setiap muslim. Sifat malu untuk berbuat maksiat (seringan apapun) merupakan salah satu warisan para nabi Allah Swt. Rasa malu pada dasarnya ada dua macam, malu yang sudah dibawa sejak kita hadir ke dunia dan malu yang diperoleh dari usaha. Malu yang diperoleh dari usaha maksudnya adalah malu yang didapat setelah kita mengenal Allah Swt., mengetahui sifat-sifat-Nya yang selalu mengawasi dan mempehatikan hamba-hamba-Nya, menyadari atas melimpahnya nikmat yang diberikan Allah Swt. namun sedikit sekali kita bersyukur. Pada intinya, malu yang muncul setelah kita tahu berbagai syari’at Islam, hukum-hukum Allah Swt. Sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi menegaskan, “Merasa malu kepada Allah adalah dengan menjaga kepala dan apa yang dipikirkan, perut dan apa yang ada di dalamnya, dan selalu mengingat mati dan cobaan. Barangsiapa yang menghendaki akhirat maka akan meninggalkan perhiasan dunia. Dan siapa pun yang melakukan hal tersebut, maka ia telah memiliki rasa malu kepada Allah”.

Para muslimah nan shalihah pun sudah seharusnya menghiasi diri dengan rasa malu. Meski secara fitrah seorang muslimah dianugrahi rasa malu terhadap lawan jenis, namun karena kesucian dan keistiqomahan, tidak menjadikan ia gugup, namun berbicara secara jelas dan sebatas keperluan saja. Jadi berbedalah dengan istilah “malu-malu tapi mau”, malu yang dibalur dengan hawa nafsu terhadap lawan jenis, maka malu yang demikian menjadi rasa malu yang tercela.

Lantas, apa manfaatnya memiliki rasa malu? Malu akan membuahkan suatu bentuk pengendalian diri dari perbuatan buruk dan selalu menepati janji. Semakin tebal rasa malu yang dimiliki, maka semakin banyak kebaikannya, dan semakin sedikit rasa malu yang dimiliki, maka semakin sedikit kebaikannya.

Jadi, masih mau berbuat maksiat? Pamer status yang belum tentu diridhoi Allah Swt.? Bangga dengan ilmu yang sejatinya jauh dari keberkahan?

Wallahu’alam…

Referensi:

DR. Musthafa Dieb Al Bugha Muhyidin Mistu, Al Wafi : Syarah Kitab Arba’in An Nawawiyah, 2007, Jakarta: Al I’tishom

Oleh: Rina Rakhmawati

Tembok Ratapan Itu Kini Bernama Facebook...

Sunday, March 11, 2012


Pernah mendengar tentang sebuah tempat di mana orang-orang menyampaikan keluhan-keluhannya, doa-doanya, harapan-harapannya, hingga semua hal yang ada di pikirannya, ia tumpahkan di tempat itu? Pernah? Saya tidak sedang membicarakan masjid. Tempat yang saya maksud ini adalah sebuah tembok.

Bagaimana? Sudah tahu?

Ya, tempat itu bernama Tembok Ratapan (Wailing Wall). Tembok Ratapan terletak di Palestina dan kini dicaplok oleh Israel. Terlepas dari kontroversi akar sejarahnya yang diklaim sebagai bagian dari Haikal Sulaiman ataupun indikasi kuatnya propaganda zionis untuk menguasai al-Aqsa dan legitimasi politik atas pendudukan mereka di Al-Aqsa, saat ini masyarakat internasional mengenalnya sebagai Tembok Ratapan.

Tembok Ratapan adalah tempat yang dianggap penting dan suci oleh orang Yahudi. Awalnya ia hanya dikenal sebagai Tembok Barat, tetapi belakangan disebut "Tembok Ratapan" (Wailing Wall) karena di sana orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain berdoa dan meratap, mereka juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu. Mereka juga berdoa dan mengharapkan datangnya Messiah sang penyelamat.

Tembok ratapan itu kini masih berdiri, dan masih banyak orang datang ke sana untuk berdoa dan meratap sekaligus menuliskan harapan-harapannya lalu menyelipkannya ke dinding-dinding tembok itu. Nah, kini ada sebuah tembok baru yang dibuat di luar tembok ratapan itu. Jika yang datang ke tembok ratapan sebagian besar adalah orang-orang Yahudi, maka di tembok baru itu, yang datang meratap bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi juga orang-orang Muslim dan orang-orang umum. Mereka dengan leluasa meratap, mengeluarkan keluh kesahnya, menuliskan harapan-harapannya, dan menghaturkan doa-doanya. Bahkan, jika Tembok Ratapan di Palestina hanya sedikit pengunjungnya, itu pun tidak setiap hari, maka tembok yang baru ini selalu dipenuhi oleh pengunjung dari segala penjuru dunia tiap harinya. Bahkan ada yang setiap hari tidak pernah meninggalkan tembok baru ini saking khusyuknya ibadah mereka di tempat itu.

Meski begitu, ia tidak pernah sesak, para pengunjungnya bisa dengan leluasa mengunjungi tembok-tembok itu. Bahkan, mereka diberikan kemudahan dengan dibebaskannya mereka membuat privatisasi pada sebagian tembok tertentu. Mereka bisa menuliskan harapannya, menyelipkan keluh kesah dan doa-doa panjangnya di dinding-dinding tembok itu, bahkan kini mereka juga dapat menyelipkan foto-foto diri mereka. Mereka juga dapat berinteraksi dengan pengunjung lain yang juga menjadi peratap di tembok itu. Kadang, mereka saling bertukar komentar atas keluhan, harapan, doa, atau sekadar celoteh kecil yang disisipkan di dinding mereka. Begitu mudah, begitu akrab, dan begitu alami…

Ya.. tahukah kalian? Kini, tembok ratapan itu bernama Facebook. Di Facebook, kita mengenal istilah wall/dinding. Di sana kita biasa mencurahkan isi kepala kita, harapan, doa dan sebagainya. Secara konseptual, ini sama dengan konsep tembok ratapannya orang yahudi. Bedanya, tembok ratapan kita itu adalah tembok maya, sementara tembok ratapan orang Yahudi itu bersifat nyata.

Ya, di sini kita bisa melihat bagaimana orang Yahudi itu mengamalkan ajaran agamanya, bahkan sampai di dunia maya. Bukankah pemilik dan penggagas facebook ini adalah orang Yahudi?

Nah,  selamat datang di era peribadatan virtual. Tetapi bukan itu saja, dinding-dinding itu kini memiliki banyak nama baru… ia bisa jadi MP, Twitter, dsb..

Namun, satu hal yang perlu diingat sebenarnya adalah, sebuah alat sejatinya bisa berguna sebaik ia bisa merugikan. Tergantung dari siapa yang memanfaatkan. Just be wise...

SUDAHKAH KAU BERDAKWAH UNTUK ORANG-ORANG TERDEKAT YANG KAU CINTAI?

Wednesday, March 7, 2012

Saya punya seorang teman, seorang aktivis dakwah, sebut saja namanya Bejo. Ia bergabung dalam organisasi rohis di kampus dan beberapa gerakan dakwah lain di luar kampus. Kholaqoh, Kajian rutin setiap akhir pekan, bakti sosial, mentoring dan masih banyak kegiatan dakwah lain pasti dia ikuti. Mobilitasnya yang luar biasa ini membuat waktunya bersama keluarga menjadi sedikit. Hampir setiap hari dia berangkat ke kampus pagi hari dan pulang malam. Teman-temannya mengenal Bejo sebagai sosok yang baik, sopan dan ramah. Ditambah lagi pengetahuan agamanya yang luas. Banyak yang suka berdiskusi dengannya karena pemahamannya akan ilmu agama sangat baik. Suatu ketika saya bersilahturahmi ke rumahnya pada akhir pekan. Karena saya sama sekali tak tau daerah dimana ia tinggal, maka kami bertemu di kampus pada pukul 11 siang. Lalu bersama-sama menuju rumahnya. Rumah Bejo cukup besar dengan warna dominan hijau. Yang terpikirkan oleh saya, keluarga Bejo adalah keluarga yang pastinya begitu taat dengan prinsip-prinsip agama. Namun first impression saya langsung berubah ketika pertama kali saya langsung disuguhkan pemandangan mencengangkan.

“Assalammu’alaikum”. Ujar Bejo.

“Wa’alaikumsalam”. Ujar seorang perempuan yang tampak lebih dewasa dari saya dengan cuek sambil melirik sedikit ke arah saya dan Bejo.

Danang langsung mengajakku masuk ke kamarnya tanpa menemui orang tuanya lebih dulu.

“Yah inilah kamarku, Fi”

“Itu tadi siapa, Jo?”. Ujar saya tak menanggapi perkataan Bejo

“Itu kakakku. Mbak Inem”.

Saya sedikit terkejut karena saya kira perempuan tadi itu pembantu keluarga Bejo sebab busana yang ia kenakan lumayan minim menurut pandangan saya. ‘mungkin karena  sedang di rumah’ batin saya.

“Jo, gue pergi bentar. Pamitin ke bonyok”. Teriak mbak Inem dari beranda depan rumah.

“Iya mbak”. Jawab Bejo.

Saya masih bisa melihat mbak Inem yang pergi keluar rumah dengan bajunya yang lumayan minim itu. tak lama setelah itu adzan berkumandang. Danang pun segera mengajakku sholat berjamaah.

“Orang tuamu lagi pada pergi?”

“Nggak kok. Mamaku ada di dapur. Papa paling lagi di kamar atas”.

“Oh ngga bareng mereka sholatnya?”.

Anehnya Bejo hanya tersenyum tak menjawab. Belakangan akhirnya saya pun tau dari Bejosendiri bagaimana keadaan keluarganya. Ternyata  Jauh dari yang saya pikirkan sebelumnya. Ilmu agama yang didapat oleh Bejo bukanlah dari keluarganya. Tapi dari lingkungan luarnya. Berbeda dengan saya yang memang dari keluarga sudah begitu kuat menanamkan prinsip-prinsip agama kepada saya sedari kecil. Saya masih begitu teringat jika saya malas sholat dan ngaji bapak atau ibu saya selalu siap ‘membantai’ saya.

Orang tua Bejo hidup nyaris tanpa menanamkan ilmu agama dalam keluarga. Ya sholat sih sholat, tetapi hanya sekedarnya saja. Tak jarang pula mereka tidak sholat lima waktu dalam sehari. Belum lagi saudara satu-satunya, mbak Inem yang terlihat begitu bebas dalam menjalani hidup. Tidak menutup aurat dan acapkali membawa teman laki-lakinya yang bukan muhrim alias pacarnya ke rumah.

“Kau sudah pernah mencoba mengingatkan mereka?” Bejo sedikit tersentak mendengar pertanyaanku yang seolah-olah belum pernah ia dengar sebelumnya.

“Ee..ee..maksudmu...”

“iya mengingatkan. Berdakwah Jo. Ke mereka, keluargamu”.

Bejo diam sesaat. Lalu berkata pelan “Selama ini aku cuma lari, Fi”.

Well guys, apakah kalian seorang aktivis dakwah? Mengikuti segabrek kegiatan dakwah di kampus, di luar kampus bahkan mungkin di luar kota? Bekerja untuk umat? Siang dan malam? Makan dan minum nyaris tak teratur? Namun kepuasan hati berhasil kau peroleh karena kau merasa bahwa ‘kau telah berdakwah dengan baik’ untuk kemaslahatan umat?

Saya tak mengharap jawaban luar biasa dari pertanyaan-pertanyaan di atas. tapi ada satu pertanyaan yang terkadang kita sama sekali lupa akan pertanyaan itu. “Sudahkah kita berdakwah dalam keluarga kita?”. seringkali kita sadar akan pertanyaan yang muncul tiba-tiba di kepala dan hati kita tapi terkadang kita mengabaikannya. Banyak, banyak sekali aktivis dakwah yang begitu bersemangat berdakwah di luar bersama organisasi-organisasi keislamannya. Mengorbankan segalanya tapi sayangnya malah lupa pada keluarga sendiri. Sepulang dari berdakwah ‘mati-matian’ diluar, sang aktivis dakwah tak terlalu menggubris keadaan keluarganya yang (mungkin) sedang tersesat.

Coba simak firman Allah ini:

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 3)

 Kawan, bukan tidak mungkin di antara kita, para aktivis dakwah mengalami hal yang serupa dengan Bejo. Jangankan kita, para ustadz pun juga ada yang mengalami hal seperti itu. mungkin saja ia sukses dalam berdakwah diluar tapi nyatanya ia gagal dalam dakwah di keluarganya sendiri. Kita sanggup sholat lima waktu ditambah sholat sunnahnya, tapi adik kita bahkan begitu malas untuk memenuhi satu waktu saja. Kita sanggup dan begitu lancar membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya tapi kakak kita saja terbata-bata membacanya. Kita sanggup menutup aurat, menjaga batasan dalam berhubungan dengan yang bukan muhrim, tapi saudara perempuan atau saudara laki-laki kita masih saja menghalalkan pacaran yang dapat dengan mudah dikendalikan setan menuju maksiat.  Sungguh ironi.

Kisah semacam ini bukan hanya kita yang mengalami. Tapi sudah dialami oleh para Nabi sejak zaman dahulu. Ingatkah kisah Nabi Nuh? Anaknya ngeyel dan tidak mau mengikuti nabi Nuh begitu pula istrinya hingga mereka ditenggelamkan bersama kaumnya yang angkuh.

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir,istri Nuh dan istri Luth... ; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, ... ;dan dikatakan (kepada kedua istri itu) “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka” (At-Tahrim: 10)

 Ingatkah pula dengan kisah istri nabi Luth yang ikut dibinasakan oleh Allah?

“Maka kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). (An-Naml: 57)

Bahkan kawan, nabi besar kita Muhammad SAW pun mengalami hal serupa. Hingga nafas terakhir, paman beliau yang selalu melindungi dari orang-orang kafir, Abu Thalib, tak kunjung mengucapkan kalimat syahadat.

Lantas apa hubungannya dengan kita? mari ingat kembali kawan apa yang dialami Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi lainnya. Apa yang sudah mereka lakukan untuk dakwah. Yang paling mudah diingat tentunya kisah Nabi Muhammad SAW yang dihina, dicaci, diludahi bahkan akan dibunuh karena perjuangan dakwahnya. Sebenarnya resiko itu pula yang akan kita hadapi ketika kita menegakkan dakwah, terutama di luar rumah dan kita berani mengambil resiko itu. Tapi lantas kenapa kita justru loyo untuk berdakwah di rumah? apakah iya kita nanti akan diludahi oleh keluarga kita sendiri jika kita mengingatkan mereka menuju kebaikan? Bahkan kita belum mencobanya, kawan.

Bukan pula hanya terjadi di rumah. mungkin pula terjadi di kos-kosan. Secara kebetulan mungkin kita tinggal satu kos dengan teman yang kurang baik perilakunya meskipun ia seorang muslim. Tapi bukan hal yang bijak jika kita langsung memutuskan untuk pindah kos sebelum kita berusaha mengingatkannya. Berusahalah dahulu untuk mengingatkan. Perkara dia berhasil atau tidak, entah dia marah atau tersinggung, itu urusan belakangan. Yang penting mari berdakwah dulu. Lari bukanlah pemecahan masalah. Ingatlah Nabi Yunus yang ditegur Allah dengan mengujinya di dalam perut ikan yang gelap setelah Ia lari dari kaumnya dengan keadaan marah.

Sudah begitu banyak contoh yang dapat kita amati mungkin pada diri sendiri mungkin pada orang lain. Hai ukhti, jilbabmu besar panjang, kau selalu menutup aurat kemana-mana tapi kau tau bahwa ibumu dan juga adik perempuanmu belum juga menutup aurat hingga sekarang. Tak maukah kau berjuang menyelamatkan mereka? Hai akhi, kau selalu bangun untuk sholat tahajud tapi kau tau bahkan ayahmu seringkali lalai bangun untuk sholat subuh. Kau takut membangunkan beliau yang tampak begitu letih bekerja seharian untuk membiayai kuliahmu. Takut mana kau melihat beliau kurang istirahat karena kau bangunkan untuk memenuhi kewajiban atau melihat beliau disiksa di alam akhirat nanti. Sanggupkah kita tega kawan, berada di surga sendiri sementara keluarga kita tersesat entah dimana?

Kini saya paham mengapa dulu ayah saya bisa berubah menjadi seorang ‘penghajar’ ketika melihat kenakalan saya yang nyaris melampaui batas. Saya paham kenapa beliau menjerit histeris ketika melihat adik saya berani membantah orang tua. Saya mengerti mengapa beliau berkata lantang “bapak berseru kepada orang lain, tapi anak sendiri kelakuannya kurang ajar”.beliau paham betul akan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Beliau tak ingin ‘labelnya’ sebagai seorang ustadz tak mampu membawa anak-anak dan istrinya ke syurga dan beliau tak mau pergi kesana sendirian tanpa kami.

Keluarga seharusnya menjadi ladang pertama dalam dakwah kita. ingatlah firman Allah ini:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;...” (At-Tahrim:6)

Mari kita sama-sama koreksi diri. kita setiap hari berusaha keras memperjuangkan masyarakat yang madani, mengkritik sistem sosial yang seharusnya lebih baik, tapi apakah sudah kita berusaha merubah keluarga kita menjadi keluarga yang madani? Ada benarnya apa yang sering dikatakan A’a Gym. Bahwa kiat merubah bangsa adalah lewat 3M : Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil dan mulai dari saat ini. bukan tak mungkin keberhasilan dakwah kita di luar menjadi sia-sia saja jika kita bahkan sama sekali tak menyentuh ranah dakwah di keluarga.

Saya pun tak ingin pergi ke surga tanpa ayah, ibu, adik dan kakak saya. bagaimana dengan anda?

Wallahu’alam

Afrizal Luthfi L

Hidup dalam Perspektif Ilmu Manajemen

Sunday, February 26, 2012

Manajemen, kata dosen bisa diartikan dalam 3 hal pokok: proses, seni dan kolektivitas. Demikian juga dengan hidup, di dalamnya adalah suatu proses, dipadu dengan seni dan tentu saja ada unsur kolektivitas (pribadi dan masyarakat).

Manajemen adalah proses yang dimulai dari planning, organizing, actuating, dan commanding. Hidup pun memiliki proses dengan unsur perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dalam pelaksanaan dan evaluasi. Proses itu terjadi sejak kita bangun pagi-pagi (planning) hingga menjelang tidur (evaluting).

Manajemen adalah seni bagaimana menyelesaikan suatu pekerjaan dengan bantuan pihak lain. Hal ini mewajibkan kita untuk memahami aspek psikis, sosiologis dan cara komunikasi yang efektif nan manusiawi ketika ada di lingkungan sosial atau kerja tim. Bagaimana orang lain mau dan ikhlas bekerja dibawah bimbingan kita atau bersama dengan kita, tanpa paksaan, tanpa tekanan. Satu hal yang kadang sulit untuk dipraktekkan. Kesabaran dan mawas diri menjadi kunci suksesnya.

Manajemen adalah kolektivitas, kumpulan orang yang bekerja sama. Sesuai betul dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Sekuat dan secerdas apapun seorang individu, ia tetap membutuhkan orang lain, entah untuk merapikan apa yang sudah dikerjakan maupun sekedar mengapresiasi. Memang sangat terkait dengan manajemen sebagai seni, seni mengelola hubungan antar personal. Selain kesabaran dan mawas diri, butuh adanya toleransi dan keikhlasan untuk saling memahami.

Sebuah teguran kecil bagi diri sendiri yang tanpa sadar selalu khilaf dan egois. Inspirasi cantik dari seorang dosen enerjik.

Jalan-jalan, yuk!

Sunday, February 5, 2012

Boleh dikatakan, hampir semua orang menyukai aktivitas yang satu ini. Jalan-jalan alias rihlah. Ada sebagian melakukannya untuk mengusir kejenuhan, sebagian lagi karena memang sudah tuntutan tugas. Biasanya para awak media atau para pebisnis yang memiliki tingkat mobilitas lebih tinggi dari profesi lainnya. Tapi bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar tugas dari seorang awak media, tapi juga pembangkit semangat dan pencarian inspirasi dari ayat-ayat Allah Swt. yang tersebar di penjuru bumi.

Bisa jadi, beberapa orang bilang, jalan-jalan hanya akan membuang waktu dan  biaya. Tapi hal itu tidak akan dialami jika kita mampu memenej dengan baik perjalanan kita, dari perencanaan hingga evaluasi atas hasil yang kita dapatkan dari perjalanan kita. Sekadar kelelahan fisik saja?Atau justru kita membawa sejuta hikmah yang siap dibagi kepada kawan-kawan, entah lewat kreatifitas fotografi maupun tulisan menggugah? It depends on ourself.

Kerapkali di tengah kejenuhan aktivitas monoton perkuliahan, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Ya, meskipun hanya di sekitar kampus atau ke Semarang bawah, yang penting bisa menghirup udara di luar, menikmati hiruk pikuk manusia dengan segala aktivitasnya. Hasilnya? Alhamdulillah selama ini ada banyak ide tulisan yang saya dapatkan dari jalan-jalan itu. Memang di mana saja saya terbiasa jalan-jalan? Tergantung budget. Ya iyalah… jangan asal jalan-jalan karna bisa-bisa yang kita hasilkan hanya buang-buang waktu, tenaga dan uang tentu saja. Biasanya saya membiasakan jalan-jalan ke toko buku langganan. Tapi yang ini tidak saya sarankan jika kantong kawan-kawan sedang cekak dan tidak bisa menahan hasrat untuk membeli buku, apalagi para penggila buku. Selain toko buku, tempat lain adalah  bangunan-bangunan bersejarah. Melihat-lihat bangunan tua nan antik memang memberikan sensasi tersendiri, apalagi bagi para penggemar sejarah. Kita bisa sekaligus membayangkan suasana saat bangunan-bangunan tua itu masih berfungsi. Jika sedang berkantong tebal, tidak ada salahnya jalan-jalan ke luar kota, apalagi jika kita mendapatkan tugas untuk meliput kegiatan di luar kota ditambah dengan ongkos PP yang ditanggung pihak ketiga, sikat saja! Hal ini juga dengan pertimbangan tidak mengganggu prioritas kewajiban utama kita dan sudah mendapat restu orangtua, supaya tugas dan perjalanan kita menjadi lebih berkah.

Masih banyak lagi tempat untuk jalan-jalan yang full inspirasi, tapi saya tidak menyarankan ke mall-mall karena justru lebih banyak konsumtifnya daripada inspiratifnya. Bahkan saya pribadi menghindari toko buku yang satu atap dengan mall. Justru sangat merekomendasikan jalan-jalan di alam terbuka, mentadaburri ayat-ayat Allah Swt lewat bentangan alam atau aspek sosial masyarakat sekitarnya.
Jangan lupakan juga ibadah wajib seperti sholat, karena sholat tidak jarang malah ditinggalkan ketika kita sedang jalan-jalan, apalagi jika perjalanan jarak jauh menggunakan kendaraan. Pergunakan kemudahan-kemudahan yang sesuai dengan syari’at, seperti tayammum, shalat dijamak maupun shalat di atas kendaraan. Semuanya sudah tersedia aturannya dalam buku-buku fiqh. Semoga perjalanan kita memperoleh keberkahan dan full inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.aamiin…

Wallahu’alam

PERAYAAN MAULID NABI : Bid'ah atau Sunnah?

Saturday, February 4, 2012





Saat ini kita telah memasuki bulan Rabiul Awwal. Dan di antara peristiwa penting bagi umat Islam terjadi pada bulan ini yaitu peristiwa kelahiran sang utusan Allah, nabi besar Muhammad Saw, yang oleh sebagian besar umat Islam lazim diketahui terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Namun benarkah hal tersebut?
Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengemukakan bahwa tanggal kelahiran Rasulullah Saw tidak diketahui secara pasti. Namun disepakati secara luas bahwa beliau lahir pada hari Senin berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah al-Anshariy bahwa Rasulullah Saw ketika ditanya tentang puasa hari Senin maka beliau Saw bersabda, “Hari itu aku dilahirkan dan di hari itulah diturunkan (Al-Qur`an).”
Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Saw dilahirkan tanggal 12 Rabiul Awwal, meskipun masyhur tetapi dasarnya lemah karena berasal dari Ibnu Ishaq, di mana menurut ulama-ulama rijal hadis, Ibnu Ishaq selain dianggap sebagai seorang Syiah, dia juga seorang yang lemah dalam riwayat-riwayatnya. Imam Nasa`i mengatakan bahwa dia tidak kuat. Daraqutni mengatakan hadisnya tidak boleh menjadi hujjah. Imam Abu Daud ada berkata, “Dia adalah seorang yang berpemahaman Qadariah dan Mu’tazilah.” Imam Sulaiman at-Taimy, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Said al-Qatthan dan Imam Malik mengatakan dia seorang pendusta besar. Malah Imam Malik pernah berkata, “Dia seorang dajjal” (Mizanul I’tidal, Imam Zahabi, jilid 3, halaman 468 – 475). Di samping itu, Ibnu Ishaq juga tidak menyebutkan sanad-sanad dalam periwayatannya.
Sedangkan para ulama ada yang mengatakan bahwa hari Senin, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas adalah tanggal 9 Rabiul Awwal. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Humaidi, Uqail, Yunus bin Yazid, Ibnu Abdillah, Ibnu Hazam, Muhammad bin Musa al-Khuwarazmi, Abdul Khattab Ibnu Dihyah, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dan Badruddin `Aini (Al-Bidayah wa An Nihayah, jilid 2 halaman 260-261)
.
Syeikh Shafiyuurrahman al-Mubarakhfury, penulis kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, di mana kitab tersebut menjadi pemenang pertama dalam lomba penulisan Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah al-Alam al-Islamiy yang bermarkas di Mekah pada tahun 1399 H / 1978 M mengemukakan bahwa kelahiran Nabi Saw adalah pada hari senin tanggal 9 Rabiul Awal pada permulaan tahun dari peristiwa gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M. Pendapat ini didasarkan atas hasil penelitian seorang ulama terkenal yang bernama Muhammad Sulaiman al Manshurfury dan peneliti astronomi, Muhammad Basya.
            Hal lain yang juga menjadi pertentangan terkait dengan kelahiran nabi atau biasa disebut Maulid Nabi ini, khususnya Indonesia, adalah adanya perayaan untuk memperingatinya. Menurut catatan sejarah, Maulid Nabi pertama kali dirayakan pada masa pemerintahan Sultan Salahudin al-Ayyubi. Gagasan perayaan ini berasal dari Abu Said al-Qakburi dengan tujuan untuk mempersatukan umat Islam yang saat itu terpecah belah pada masa perang salib. Perayaan pertama ini dirayakan besar-besaran.
            Ada beberapa golongan yang berbeda pendapat dalam menyikapi perayaan maulid Nabi Muhammad ini:
1.      Golongan pertama adalah umat Islam yang memperingati Maulid Nabi Muhammad dengan menjalankan amalan-amalan khusus dan juga merayakannya. Biasanya golongan ini membaca amalan-amalan tertentu serta Shalawat Nabi setiap Senin pada bulan Rabiul Awwal lalu mengadakan perayaan besarnya.
2.      Golongan kedua adalah umat Islam yang memperingati Maulid Nabi Muhammad hanya dengan merayakannya saja pada satu waktu tanpa mengerjakan amalan-amalan khusus. Golongan ini biasanya golongan yang lebih banyak dijumpai, terutama di masjid-masjid di pedesaan.
3.      Golongan ketiga adalah umat Islam yang sama sekali tidak memperingati Maulid Nabi Muhammad karena tidak adanya dalil yang menerangkan tentang hal ini. golongan ini memandang bahwa perayaan Maulid Nabi yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam adalah bid’ah.
Berbicara tentang bid’ah, Haris Firdaus, dalam bukunya NU, Persis atau Muhammadiyah yang ahli Bid’ah? mengemukakan bahwa pada dasarnya bid’ah tetaplah harus dihindari baik itu bid’ah haqiqiyah maupun idhafiyah. Adapun bid’ah haqiqiyah adalah perbuatan yang tidak ada dalam pokok-pokok atau cabang-cabang agama Islam dan sama sekali tidak memiliki dalil syar’i dalam al-Qur`an. Sedang bid’ah idhafiyah adalah perbuatan yang dibuat-buat dalam agama serta memiliki dalil dari al-Qur`an, Sunnah atau Ijma, sehingga dijadikan sandaran sebagai keberadaan perbuatan itu.
Adapula sebagian umat yang menggolongkan bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Menurut Abujamin Roham dalam Ensiklopedi Lintas Agama, pada dasarnya al-Qur`an dan hadis tidak pernah membagi-bagi bid’ah karena menurut artinya sendiri bid’ah artinya menambah-nambah sesuatu. Apa pun jenis bid’ah itu harus dihindari karena dianggap telah menambah-nambahi urusan agama, padahal urusan agama adalah urusan Allah dan Rasul yang telah ditetapkan dalam al-Qur`an dan hadis.
Umat Islam mengeti bahwa perayaan Maulid Nabi dikategorikan ke dalam bid’ah karena memang tidak ada sama sekali dalil yang menunjukkan tentang tuntunan untuk melaksanakan perayaan ini. Namun demikian, lagi-lagi kita terpecah dalam bagaimana bersikap mengenai hal ini. Umat Islam terpecah ke dalam dua pendapat:
1.      Golongan pertama memahami bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah namun mengkategorikannya sebagai bid’ah hasanah, yaitu bid’ah yang baik yang dianggap sebagai sesuatu yang bermanfaat sehingga pelaksanaannya akan mendapatkan pahala dari Allah Swt.
2.      Golongan kedua memahami bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad adalah bid’ah, dan bid’ah sekalipun dikategorikan pada bid’ah baik dan bid’ah buruk tetaplah sesuatu yang tidak memiliki dasar dan dalil yang kuat, sehingga tidak merayakannya sama sekali.
Golongan pertama beranggapan bahwa perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw meskipun dikategorikan bid’ah namun memiliki acuan hadis sendiri. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim “Tak seorang pun di antara kamu beriman sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.” ‘Umar ibn al-Khaththâb ra berkata, “Wahai Nabi saw, Aku sungguh mencintaimu melebihi diriku sendiri.” Juga bersandar pada ayat Al-Qur’an “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Q.s. al-Ahzab :56).
Perayaan Maulid Nabi Muhammad menurut golongan ini adalah bentuk dari dorongan rasa kasih sayang dan cinta dari umat Islam dengan bersuka ria menyambut hari kelahiran Rasulullah SAW. Menurut Ibn al-Hajj bahwa meningkatkan amalan-amalan ibadah serta Shalawat Nabi lebih khusus pada tiap malam senin di bulan Rabiul Awwal adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Sedangkan golongan kedua bersandar pada ketetapan para ulama yang telah mengkategorikan perayaan Maulid Nabi Muhammad sebagai bid’ah. Sedang bid’ah yang meskipun dikategorikan sebagai bid’ah baik dan bid’ah buruk tetaplah suatu hal yang harus dihindari. 
Perayaan Maulid Nabi Muhammad dianggap sebagai suatu perayaan yang berlebih-lebihan dalam menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis diakatakan “Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka sebutlah, ‘Abdullah wa rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Serta sebuah hadis lain yang berbunyi “Wahai manusia, jauhilah oleh kamu sekalian sikap berlebihan dalam beragama, karena sesungguhnya sikap berlebihan dalam beragama itulah yang telah menghancurkan umat-umat sebelum kamu.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya. Dishahihkan oelh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah dan al-Shahihah: no. 1283)
Menurut Ustadz Zen Yusuf al-Choodlry, kalimat "Janganlah kamu sekalian memujiku dengan berlebih-lebihan” artinya adalah janganlah kamu sekalian memujiku dengan cara yang bathil, dan janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku. Makna kata ithra’ dalam hadis (laa tuthruni), adalah melampaui batas dalam memuji. Perayaan yang dilakukan khusus untuk memperingati Maulid Nabi muhammad tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Melakukan amalan-amalan tertentu serta meningkatkan ibadah secara khusus pada hari Senin dalam bulan Rabiul Awwal juga menimbulkan pertanyaan mengapa harus hari tertentu. Sebaiknya shalawat kepada Nabi Muhammad tetap konsisten diucapkan setiap harinya. Bahkan tentunya minimal lima kali sehari dalam shalat.
Sepertinya perbedaan pendapat semacam ini akan sulit menemui titik terang tanda kesepakatan. Jika kita amati semua yang dilakukan para ulama, ustadz hingga hanya seorang penulis dalam membahas masalah ini adalah keinginan untuk terus meningkatkan ibadah kepada Allah Swt. Mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad serta mencintai sosok teladannya adalah ibadah tentunya.
Ustadz Salim Filli dalam ceramahnya di Kota Bengkulu suatu ketika berkata bahwa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan cinta kita pada Rasulullah adalah dengan mengamalkan apa yang telah ia ajarkan. Beliau mengurutkan tingkatan cinta seorang mukmin pada Rasul dalam 3 tingkatan:
1.      Mengakui dan mengimani keberadaan Rasul dengan mengucapkan “Aku bersaksi kepada Allah bahwa Muhammad itu utusan Allah”.
2.      Mengucap Shalawat Nabi setiap harinya
3.      Mengamalkan ajaran dan sunnah-sunnah Rasulullah Saw.
Namun nyatanya, kita banyak terhenti pada tingkatan kedua. Banyak yang mempertentangkan bagaimana seharusnya bershalawat pada Rasulullah Saw. Dirayakan atau tidak, berlebihan atau tidak dan masih banyak pertentangan lainnya. Baiknya umat Islam mengamalkan ajaran Rasul sehingga tidak akan banyak terjadi perbedaan pendapat yang terkadang justru menimbulakan kebencian satu sama lain.
Bukankah lebih baik kita bersatu bersama, beribadah kepada Allah SWT, bershalawat untuk Rasulullah Saw sehingga terbentuklah pasukan Islam yang kuat dan suatu hari nanti mampu melawan dan mengambil alih peradaban dunia yang telah lama dikuasai para Yahudi dan Nasrani?

Wallahu’alam


Afrizal Luthfi L

Masihkah Pantas Meminta 'Udzur Dijalan Ini?

Friday, February 3, 2012

Tidakkah engkau tahu anakku,
 
segala ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya, 

“Berangkatlah dalam keadaan ringan ataupun berat!”?
 
-Abu Ayyub Al Anshari, Radhiyallaahu ‘Anhu-  


Di buku "Saksikan Bahwa Aku Seorang  Muslim", saya pernah berkisah tentang Ibnu Taimiyah. Dia yang selalu dipasang di garis depan, menjadi pejuang pengobar semangat ketika serbuan Mongol bergemuruh menerjang Damaskus. Dan dialah juga yang tiap kali tugas jihad itu usai harus bersetia menghuni selnya di penjara kota. 
 
Tetapi jeruji-jeruji tak menghentikannya. Disaksikan besinya yang berkarat dan temboknya yang berlumut dia ucapkan kekatanya yang menyejarah. “Apa yang mereka lakukan padaku? Jiwaku merdeka dalam genggaman Allah. Jika aku dipenjara, jadilah ia rehat. Jika dibuang jadilah ia tamasya. Jika dibunuh, apalagi  yang lebih kurindukan selain menemui Allah?” Penjara tak menghentikannya. Ia tetap berkarya. Saat tinta, kertas, dan pena dijauhkan darinya, ditulisnya Risalatul Hamawiyah di dinding penjara dengan arang sisa perapian. Dan dunia pun menjadi saksi, bahwa jiwanya telah menari di atas semua batas, merayakan pengabdian yang hanya ia tujukan pada Allah sepanjang hidupnya. 
 
Izinkan kali ini saya hadirkan seorang lagi yang menari di atas batas. Namanya Muhammad ibn ‘Ali. Tapi orang akan lebih mengangguk tanda kenal jika disebut nama Muhammad ibn Al Hanafiyah. Ini menisbat pada ibunya, seorang wanita dari Bani Hanifah. Ya, ayahandanya adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, radhiyallaahu ‘anhu. Tapi ibundanya bukanlah Fathimah. Artinya, dia bukan berasal dari garis turun langsung Sang Nabi, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. 
 
Satu saat seseorang mempermasalahkan pembedaan yang dilakukan atas dirinya dibanding kedua kakandanya, Al Hasan dan Al Husain. “Tidakkah kau lihat”, kata orang itu, “Ayahmu lebih mencintai Al Hasan dan Al Husain dibanding dirimu?” 
 
“Duh, jangan katakan begitu kawan!”, jawabnya kalem. “Al Hasan dan Al Husain bagaikan dua mata bagi ayahku. Sedang aku ini bagaikan kedua tangannya. ” Senyumnya mengembang, manis sekali. “Adalah tugas kedua tangan”, lanjutnya, “Untuk menjaga kedua mata.” Dan memang begitulah kehidupannya, diabdikan untuk menjaga kedua kakandanya hingga batas waktu yang telah Allah tetapkan. Hingga, Al Hasan wafat dan Al Husain pun gugur dalam kisah yang terlalu pedih untuk kita ceritakan. 
 
Dendamkah Muhammad ibn Al Hanafiyah pada keluarga besar yang telah menzhalimi keluarganya itu; Bani Umayyah? Secara manusiawi tentu jawabnya ya. Apalagi rasa pedih itu kadang muncul di saat seharusnya ia tunduk khusyu’ dan mentaati wasiat taqwa. Masa itu, hampir tak ada khuthbah Jum’at yang melewatkan pujian untuk Mu’awiyah sekeluarga sekaligus cacian untuk ‘Ali, ayahandanya. Seakan, mengumpat ‘Ali ibn Abi Thalib adalah bagian dari rukun khuthbah.

Tetapi orang-orang kemudian tertakjub ketika ia memenuhi panggilan jihad yang diserukan Yazid ibn Mu’awiyah, orang yang paling bertanggungjawab atas pembantaian Al Husain sekeluarga. “Layakkah orang seperti itu ditaati?”, tanya orang-orang. 
“Memangnya ada apa dengannya?” 
“Dia meninggalkan shalat, meminum khamr, dan jauh dari hukum Allah!” 
“Aku tidak melihat itu ketika membersamainya. Dia menunaikan shalat, cenderung pada kebajikan, dan bertanya tentang Al Quran juga sunnah RasulNya.” 
“Dia hanya berpura-pura di hadapanmu!” 
“Apakah yang ditakutkannya atasku hingga harus berpura-pura? Dan jika kalian memang melihatnya melakukan semua itu, mengapa dia tidak berpura-pura pada kalian? Apakah kalian semua ini sahabat akrabnya yang ingin menjebakku?” 
 
Mereka terdiam. Saling pandang. Lalu berkata lagi, “Bukankah Bani Umayyah yang telah menzhalimi keluargamu hingga binasa dan curas? Apa yang akan kau katakan di hadapan Allah dan di hadapan ayahmu, juga saudara-saudaramu, jika kini kau berperang di bawah panji-panji Bani Umayyah?”
 
Muhammad ibn Al Hanafiyah tersenyum. “Ayahku kini membersamai Rasulullah di surga tertinggi, sementara saudara-saudaraku adalah penghulu para pemuda di sana. Kezhaliman Bani Umayyah adalah urusan mereka dengan Allah. Urusanku kini adalah berjihad di jalan Allah dan mentaati Ulil Amri.”
 
Begitulah. Tak mudah menjadi seorang Muhammad ibn Al Hanafiyah. Ada kendala-kendala, ada batas-batas yang membuatnya terhalang untuk memberikan pengabdian. Batas-batas itu bukan hanya ada di dataran raga, tapi jauh di sana, di dalam jiwanya. Dan kini jiwanya menari di atas batas, merayakan pengabdian yang sepanjang hidup ia tujukan untuk Allah. 
 
Memaknai batas kadang memberi kita permakluman untuk mengambil ‘udzur. Selalu ada pembenaran atas setiap langkah mundur yang kita ambil. Selalu ada alasan untuk berlama-lama di tiap perhentian yang kita singgahi. Tetapi di jalan cinta para pejuang, para kstaria agung itu bertanya pada hati. Dan mereka menemukan jawab yang membuat jiwa menari di atas batas, meski jasad harus bersipayah mengimbanginya. ‘Amr ibn Al Jamuh, lelaki pincang dari Bani Najjar itu diminta rehat ketika hari Uhud tiba. “Dengan kaki pincangku inilah”, katanya, “Aku akan melangkah ke surga!” Jiwanya menari di atas batas, dan Sang Nabi di hari Uhud bersaksi, “Ia kini telah berada di antara para bidadari, dengan kaki yang utuh tak pincang lagi!” 
 
Dengan nikmat Allah yang begitu besar atas jiwa dan raga ini, apa yang harus kita katakan pada ‘Amr ibn Al Jamuh, Ahmad Yassin, dan orang-orang semisal mereka saat kita disaput diam dan santai? Dengan kemudaan ini, berkacalah kita pada Abu Ayyub Al Anshari yang di usia delapanpuluh tahunnya bergegas-gegas ke Konstantinopel, menjadikan pedangnya sebagai tongkat penyangga tubuh sepanjang jalan. Dan apa jawab kita saat kita ingatkan bahwa ia punya ‘udzur, tapi justru dia bertanya, “Tidak tahukah engkau Nak, bahwa ‘udzur telah dihapus dengan firmanNya, ‘Berangkatlah dalam keadaan ringan maupun berat!’?” 
sepenuh cinta, 

Salim A. Fillah 
disalin dari islamedia.web.id
ilustrasi dari sini
 
© Copyright 2010-2011 Donasi untuk Dakwah All Rights Reserved.
Design by Borneo Templates | Sponsored by Wordpress Themes Labs | Powered by Blogger.com.