News Update :

Monday, September 10, 2012

NIAT: HAL UTAMA YANG PALING PENTING SEBELUM BERAKSI

By at 6:42 PM
send email
print this page
“Nan, sholat di maskam yuk.” Ujar Zendi begitu mendengar adzan ashar.

“Ngapain men. Jauh-jauh. Ini tempat sholat segede gini di depan kita.” Anan menanggapi sambil menunjuk mushola Al-adab Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

“Eh nggak apa-apa. Lebih jauh ngelangkahnya lebih banyak pahalanya”.

Anan pun manut dan mengikuti Zendi menuju Masjid kampus (maskam) UGM melewati pintu masuk kecil di bagian belakang FIB yang hanya dibuka setengah. Mereka pun sholat berjama’ah bersama para jama’ah lainnya di maskam. Setelah berdzikir dan berdoa, Anan dan Zendi yang kebetulan tidak ada kegiatan sore itu duduk-duduk sejenak di beranda maskam UGM.

“Eh lu nyariin apaan sih?” Tanya Anan yang merasa aneh melihat gerak-gerik Zendi

“Apaan?”

“Malah balik nanya. Lu yang apaan tuh celingak-celinguk dari tadi. Ngeliatin ke arah tangga mulu. Jelalatan nyari cewe bening lu ya?”

“Kagak oy. kagak.”

“Yaudah cabut ah. Ayo balik.”

“Sekarang?”

“Taun depan! Ya sekarang lah. yok ah.” Ujar Anan sambil berdiri.

Sambil berjalan menuju parkiran barat maskam, Zendi masih celingukan seperti mencari keberadaan seseorang. Anan merasa ada yang tak beres dengan Zendi.

“Eh nyong! Lu nyari sapa sih? Jangan-jangan nyari Intan?” Ujar Anan menyebutkan nama seorang perempuan yang konon katanya adalah pujaan hati sahabatnya itu. Intan adalah seorang akhwat aktivis super yang kini menempuh studinya di fakultas psikologi.

“Hehe..” Zendi tersenyum kecut sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Wah parah lu. Parah. Nyari cewe di mesjid. Parah lu. Kacau.”

“Ye yang penting kan gue solat jama’ah Nan, ibadah juga. Lagian gue gak sengaja doang tau dia bakal ke maskam jam 3 sore dari Fb.”

“Waduh! Jadi lu niat ngajakin gue kesini tadi cuma nyariin Intan? Wah wah gawat lu.”

“Ye Nan. Kan gue ngajak lu sholat jama’ah juga.”

“Niat awal lu apa heh? Nih baca nih. Sini gue aja yang bawa motor lu. Lu baca tu di jalan yak.” Ujar Anan sembari mengeluarkan secarik buletin kertas at-tauhid yang ia dapat di maskam pada jum’atan lalu dan meraih kunci motor dari genggaman Zendi. Zendi mengamati kertas itu dan mulai larut dalam bacaannya.

Kawan-kawan sahabat muslim, terkadang niat itu adalah sebuah hal yang tak tersadari oleh kita. Niat itu terkadang muncul dengan sendirinya dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pasti kawan-kawan pernah mendengar “Innamal a’malu binniyat”. Dari yang sekedar pernah dengar dari teman, pernah baca, hingga yang benar-benar tahu dan paham akan makna dari kalimat yang sebenarnya merupakan bagian dari ahdist arbain nomor 1 ini. Kalimat ini lebih terkenal daripada keberadaan hadistnya sendiri.  Bahkan nama hadist arbain nomor 1 ini lebih populer dengan sebutan hadist Innamal a’malu binniyat.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]


Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin al-Khaththab radiallahuanhu, dia berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap  perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.’” [1]

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya ketika ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

(Riwayat dua imam hadits, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhori dan Abul Husain, Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam kedua kitab Shahiih-nya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah ditulis).

Sabda beliau إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ  ; kata انِّيَّاتِ adalah bentuk jamak dari kata ‘niyyat’, yang secara bahasa berarti maksud dan tujuan. Jika diartikan secara istilah syar’i artinya: kuatnya hati untuk melakukan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh menjelaskan makna niat dalam istilah ada dua:

1.Niat yang terkait dengan ibadah. Yang dimaksudakan adalah niat yang ditujukan untuk ibadah yang membedakan shalat dari puasa, dan membedakan shalat wajib dari sunnah.

2.Niat yang terkait dengan kepada siapa ibadah tersebut ditujukan. Niat dengan pengertian ini dimaksudkan dengan istilah ikhlas.

Niat tidaklah urgent untuk diucapakan atau dilafalkan. Cukup disebutkan dalam hati. Niat adalah amalan hati. “Adapun melafadzkan niat maka tidak dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa jika beliau hendak shalat atau berwudhu mengucapkan “nawaithu an ushalli...(aku berniat untuk sholat...)” atau “Nawaithu an atawadhdha’...(aku berniat untuk wudhu...)”...”.

Jika kita sudah membicarakan niat, terutama niat baik maka kita tidak akan bisa menghindar dari pembicaraan ‘sang musuh’-nya niat yaitu riya’. Bukan perkara baru riya’ itu selalu mencampuri keberadaan niat awal kita. apabila niat ikhlas tercampur riya’, ada tiga keadaan:

1.Jika niat utama yang mendorong seseorang melakukan sebuah amalan adalah riya’, maka hal ini adalah syirik dan amalannya sudah batal.

2.Ketika akan beribadah awalnya ikhlas, tapi di tengah tercampur riya’, maka ada dua keadaan:

a.Jika ia berusaha melawan rasa riya’ tersebut dan tidak terus menerus dalam rasa riya’, maka riya’ tersebt tidak berpengaruh pada amalannya.

b.Jika ia tidak berusaha melawannya dan terus berada dlam riya’nya maka jika ibadah tersebut tidak terangkai dengan bagian awalnya maka amalan yang tercampur riya’ itu batal dan yang tidak menjadi sah.

3.Jika riya’ muncul setelah ibadah, maka tidak membatalkan.

Tujuan adanya niat dalam suatu ibadah adalah untuk menjadi pembeda antara suatu perbuatan yang hanya merupakan adat kebiasaan (yang tidak bernilai pahala) dengan suatu amal ibadah (yang bernilai pahala). Tujuan lainnya adalah untuk menjadi pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya.

Sangat sulit menciptakan niat ikhlas dalam berbuat sesuatu hanya untuk Allah SWT. Kenapa? Karena sesungguhnya niat itu sendiri tak bisa diciptakan dengan sengaja. Ia terbentuk dengan sendirinya dari hati yang terdalam. Coba perhatikan perbedaan kalimat dua orang ini:

1.A : Kamu ngapain susah-susah angkat-angkat meja?

B: Kasihan gue lihat lu pade nggak ada yang bantuin. Gue bantu aja lah. itung-itung pahala.

2.A: Kamu ngapain susah-susah angkat-angkat meja?

B: Mau gue angkat meja kek, angkat kursi kek, angkat besi kek, kalo gue mau ya terserah gue.

Silahkan dinilai dari ujaran “B” diatas. Mana yang lebih mengandung unsur keikhlasan atau kedua-duanya malah sama. Ingat, sangat sulit membedakan niat yang ikhlas dengan yang tidak apalagi jika hanya dengan mencermati kalimat.

Niat menjadi suatu hal yang sangat penting namun sering terlupakan. Karena itu, apapun yang akan kita lakukan hendaknya kita awali dulu dengan meluruskan niat menuju niat yang baik dan tertuju hanya untuk Allah SWT.  Jadi bagaimana niat anda, kawan?

Wallahu’alam.

Referensi:

http://salamdakwah.com/baca-artikel/memurnikan-niat.html

Syarah Al-Arba’in An-nawawiyyah fil Ahadits Ash Shahihah an-Nabawiyyah-Majmu’atul Ulama’-hal

31-32 dikutip dari Buletin At-Tauhid edisi 11 tahun 8

At-Tauhid al-Muyassar hal. 97-98 dikutip dari Buletin At-Tauhid edisi 11 tahun 8

Buletin At-Tauhid edisi 11 tahun 8

picture taken from: ruangfana.blogspot.com
Share This :
-
 
© Copyright 2010-2011 Donasi untuk Dakwah All Rights Reserved.
Design by Borneo Templates | Sponsored by Wordpress Themes Labs | Powered by Blogger.com.