News Update :

Wednesday, April 4, 2012

Mempertanyakan Rasa Malu Kita

By at 1:01 PM
send email
print this page

Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya sebagian yang masih diingat orang dari ajaran para nabi terdahulu adalah, ‘Jika tidak malu, berbuatlah sesukamu’.” (h.r. Bukhari)


Malu, salah satu sifat manusia dan karakter khas bangsa timur yang semakin hari sepertinya semakin punah, tergerus arus globalisasi. Budaya malu seolah menjadi warisan yang mulai banyak ditanggalkan karena dianggap kuno. Untuk apa malu?Ini ‘kan jaman kebebasan!Manusia dibebaskan melakukan apapun, bahkan tidak jarang menerjang batas kepatutan hingga syari’at agama. Jika dulu mencuri uang Rp 100,00 sudah dianggap memalukan, jaman modern mencuri bertrilyun uang rakyat dianggap hal yang lumrah, bahkan pelakunya pun tidak malu untuk berkilah, beradu argumen maupun muncul di tengah khalayak. Tidak hanya di Indonesia, di mana saja ditemui manusia modern, di sanalah budaya malu semakin menipis, hilang sedikit demi sedikit. Tidak malu terhadap sesama manusia, apalagi malu sama Tuhan? Kita seolah kehilangan sosok pemuda layaknya Utsman bin Affan yang memiliki sifat pemalu bahkan membuat para malaikat menjadi segan. Kita pun kehilangan pribadi muslimah seperti putri Nabi Syu’aib yang meskipun malu terhadap lawan jenis, namun ia tak pernah berusaha untuk menarik perhatian Nabi Musa ketika mereka bertemu di sebuah telaga.

Perempuan dan laki-laki yang menganggap dirinya muslim, tidak malu saling memanggil “abi”, “umi”, “suamiku”, “istriku” meskipun belum betul-betul sah dalam ikatan akad sesuai syari’at. Banyak pula akademisi yang terang-terangan menunjukkan sikap plagiarism ketika ujian, bangga dengan gelar dan jajaran nilai “A” namun minim kontribusi. “Eh jangan lupa ya besok aku contekin! Sesama teman harus saling membantu lah…”, apakah ini yang namanya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan?Tidak! Di mana rasa malumu, kawan?

Malu, dalam Islam disebut sebagai sebagian dari Iman. Malu menjadi media penyeru untuk mencegah segala maksiat dan kejahatan. Ia menjadi ciri khas kebaikan yang seharusnya melekat erat dalam diri setiap muslim. Sifat malu untuk berbuat maksiat (seringan apapun) merupakan salah satu warisan para nabi Allah Swt. Rasa malu pada dasarnya ada dua macam, malu yang sudah dibawa sejak kita hadir ke dunia dan malu yang diperoleh dari usaha. Malu yang diperoleh dari usaha maksudnya adalah malu yang didapat setelah kita mengenal Allah Swt., mengetahui sifat-sifat-Nya yang selalu mengawasi dan mempehatikan hamba-hamba-Nya, menyadari atas melimpahnya nikmat yang diberikan Allah Swt. namun sedikit sekali kita bersyukur. Pada intinya, malu yang muncul setelah kita tahu berbagai syari’at Islam, hukum-hukum Allah Swt. Sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmidzi menegaskan, “Merasa malu kepada Allah adalah dengan menjaga kepala dan apa yang dipikirkan, perut dan apa yang ada di dalamnya, dan selalu mengingat mati dan cobaan. Barangsiapa yang menghendaki akhirat maka akan meninggalkan perhiasan dunia. Dan siapa pun yang melakukan hal tersebut, maka ia telah memiliki rasa malu kepada Allah”.

Para muslimah nan shalihah pun sudah seharusnya menghiasi diri dengan rasa malu. Meski secara fitrah seorang muslimah dianugrahi rasa malu terhadap lawan jenis, namun karena kesucian dan keistiqomahan, tidak menjadikan ia gugup, namun berbicara secara jelas dan sebatas keperluan saja. Jadi berbedalah dengan istilah “malu-malu tapi mau”, malu yang dibalur dengan hawa nafsu terhadap lawan jenis, maka malu yang demikian menjadi rasa malu yang tercela.

Lantas, apa manfaatnya memiliki rasa malu? Malu akan membuahkan suatu bentuk pengendalian diri dari perbuatan buruk dan selalu menepati janji. Semakin tebal rasa malu yang dimiliki, maka semakin banyak kebaikannya, dan semakin sedikit rasa malu yang dimiliki, maka semakin sedikit kebaikannya.

Jadi, masih mau berbuat maksiat? Pamer status yang belum tentu diridhoi Allah Swt.? Bangga dengan ilmu yang sejatinya jauh dari keberkahan?

Wallahu’alam…

Referensi:

DR. Musthafa Dieb Al Bugha Muhyidin Mistu, Al Wafi : Syarah Kitab Arba’in An Nawawiyah, 2007, Jakarta: Al I’tishom

Oleh: Rina Rakhmawati
Share This :
-
 
© Copyright 2010-2011 Donasi untuk Dakwah All Rights Reserved.
Design by Borneo Templates | Sponsored by Wordpress Themes Labs | Powered by Blogger.com.