Perubahan. Kosakata yang seringkali terdengar dalam setiap
event pergantian manajerial, baik manajemen pribadi maupun
individu. Perubahan. Mudah diucapkan, tapi masih sering disalah-pahami
oleh kita. Sejalan dengan kecepatan teknologi, perubahan dituntut juga
untuk bergerak cepat, seiring selangkah. Kita seolah lupa kalau
perubahan itu ada yang memang cepat (revolusi), dan ada juga yang lambat
(evolusi).
Tuhan memang mengingatkan bahwasanya Ia tidak akan mengubah kondisi
suatu masyarakat, jika orang-orang di dalam masyarakat itu tidak ada
usaha untuk berubah dimulai dari diri mereka sendiri (cek QS. Ar Ra’d :
11). Sekedar omdong, bahasa awamnya. Berdoa terus supaya dijauhkan dari
segala maksiat dan kemungkaran, tapi sholatnya masih bolong-bolong. Minta
diberikan kecerdasan dan keluasan ilmu, tapi belajar saja masih
ogah-ogahan. Dalam beberapa hal, perubahan itu butuh proses. Proses itu
bisa memakan waktu lama, karena memang sangat prinsipil, tapi ada juga
yang cepat. Seperti misalnya sistem kearsipan keraton yang ternyata
tidak secepat perkembangan sistem kearsipan di birokrasi modern. Padahal
kearsipan Indonesia sudah termasuk lamban perubahannya, tapi toh masih ada yang lebih lamban. Kita tidak
bisa serta merta menyalahkan pihak keraton. Bahkan mungkin kita perlu
mempertahankan sistem kearsipan yang terlihat tua itu karena faktor
keistimewaan. Ya, bukankah Yogyakarta itu daerah istimewa? Selain karena
pola pemerintahannya, sosial budayanya, bisa juga dilihat pada sistem
kearsipannya sebagai penunjang kegiatan pemerintahan keraton.
Alon-alon asal kelakon yang dipegang sebagian besar orang
Jawa ini tidak sepenuhnya negatif. Jika memang bisa dipercepat, maka
percepatlah. Tapi kalau memang sebaiknya lambat, tahap demi setahap
karena faktor tertentu, ya sudah. Yang penting jangan diam. Manusia yang
terlalu lama diam, bisa jadi sarang berbagai penyakit, fisik hingga
ruhani. Satu yang harus ditekankan, jangan gunakan alon-alon asal kelakon untuk
menunda-nunda kewajiban yang bisa kita lakukan saat itu juga. Hobi
dengan mepet deadline padahal waktu senggang sangat luas. Siapa bisa
jamin satu detik lagi kita masih hidup, hah?
Wallahua'lam…
Rina Rakhmawati

