News Update :

Thursday, June 13, 2013

Perubahan

By at 8:15 PM
send email
print this page
Perubahan. Kosakata yang seringkali terdengar dalam setiap event pergantian manajerial, baik manajemen pribadi maupun individu. Perubahan. Mudah diucapkan, tapi masih sering disalah-pahami oleh kita. Sejalan dengan kecepatan teknologi, perubahan dituntut juga untuk bergerak cepat, seiring selangkah. Kita seolah lupa kalau perubahan itu ada yang memang cepat (revolusi), dan ada juga yang lambat (evolusi).
downloadSuatu perubahan yang lazimnya memang harus lambat karena beberapa hal, kita paksa untuk bergerak cepat. Seolah kata lambat di jaman serba teknologi canggih ini selalu negatif. Lamban = ketinggalan. Ketinggalan = kemunduran. Kemunduran = suram. Pokoknya semuanya serba negatif. Apa iya harus dipersepsikan begitu?Saya pikir tidak.

Tuhan memang mengingatkan bahwasanya Ia tidak akan mengubah kondisi suatu masyarakat, jika orang-orang di dalam masyarakat itu tidak ada usaha untuk berubah dimulai dari diri mereka sendiri (cek QS. Ar Ra’d : 11). Sekedar omdong, bahasa awamnya. Berdoa terus supaya dijauhkan dari segala maksiat dan kemungkaran, tapi sholatnya masih bolong-bolong. Minta diberikan kecerdasan dan keluasan ilmu, tapi belajar saja masih ogah-ogahan. Dalam beberapa hal, perubahan itu butuh proses. Proses itu bisa memakan waktu lama, karena memang sangat prinsipil, tapi ada juga yang cepat. Seperti misalnya sistem kearsipan keraton yang ternyata tidak secepat perkembangan sistem kearsipan di birokrasi modern. Padahal kearsipan Indonesia sudah termasuk lamban perubahannya, tapi toh masih ada yang lebih lamban. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan pihak keraton. Bahkan mungkin kita perlu mempertahankan sistem kearsipan yang terlihat tua itu karena faktor keistimewaan. Ya, bukankah Yogyakarta itu daerah istimewa? Selain karena pola pemerintahannya, sosial budayanya, bisa juga dilihat pada sistem kearsipannya sebagai penunjang kegiatan pemerintahan keraton. 
Alon-alon asal kelakon yang dipegang sebagian besar orang Jawa ini tidak sepenuhnya negatif. Jika memang bisa dipercepat, maka percepatlah. Tapi kalau memang sebaiknya lambat, tahap demi setahap karena faktor tertentu, ya sudah. Yang penting jangan diam. Manusia yang terlalu lama diam, bisa jadi sarang berbagai penyakit, fisik hingga ruhani. Satu yang harus ditekankan, jangan gunakan alon-alon asal kelakon untuk menunda-nunda kewajiban yang bisa kita lakukan saat itu juga. Hobi dengan mepet deadline padahal waktu senggang sangat luas. Siapa bisa jamin satu detik lagi kita masih hidup, hah?

Wallahua'lam…




Rina Rakhmawati

Share This :
-
 
© Copyright 2010-2011 Donasi untuk Dakwah All Rights Reserved.
Design by Borneo Templates | Sponsored by Wordpress Themes Labs | Powered by Blogger.com.