“Ngapain sih pake hijab segala kalo rapat. Ribet tauk. ngomongnya gak jelas, pasti kacau entar pas koordinasi”
“Ya emang kudu begitu. Biar ngejaga pandangan. Soalnya kadang rapat kan lebih dari 1 jam. Entar kalo pandang-pandangan terus bisa muncul perasaan-perasaan dari setan, apalagi kalo mandang gue tuh, semenit aja orang klepek-klepek apalagi berjam-jam hahaha”
“Ah elu mah. Sekarang coba pikir, pas rapat pake hijab, sok-sok-an gak pandang-pandangan, tapi entar liat aja diluar setelah rapat. Paling say “hai”, say “halo” lagi. Hai akhi, hai ukhti lagi. Tetep aja diluar bisa deket. Jadi buat apa”.
Diatas adalah potongan percakapan antara saya dengan seorang teman di lembaga dakwah. Saat itu kami berdiskusi tentang fungsi dari hijab fisik tersebut. Hijab yang kami bicarakn disini adalah hijab fisik yang digunakan untuk pembatas antara ikhwan dan akhwat agar tidak terjadi ikhtilat, bukan hijab fisik yang mengacu ke pakaian yang digunakan kaum muslimah yaitu baju yang menutup aurat secara umumnya dan jilbab secara khususnya. Saya agak sulit menjawab mengapa hijab fisik penting. Sehingga saya harus berfikir beberapa saat dulu untuk menemukan jawaban yang bisa memuaskan teman saya.
Seringkali banyak orang mempertanyakan fungsi hijab fisik yang sering digunakan dalam syuro. Jangankan orang pada umumnya, sesama aktivis dakwah saja terkadang mempertanyakan fungsinya. Mungkin bukan mutlak mempertanyakan fungsinya, tapi lebih pada “hambatan” yang ditengarai muncul karena keberadaan hijab fisik. Alasan klasik yang sering mengemuka adalah buruknya koordinasi yang tercipta saat syuro karena keberadaan hijab fisik tersebut yang lantas berpengaruh pada kinerja suatu lembaga dakwah dalam menyusun dan melaksanakan sebuah kegiatan.
Hijab menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti “dinding yang membatasi sesuatu dengan yang lain” lebih lengkapnya “dinding yang membatasi hati manusia dengan Tuhan”. Dalam bahasa arab, hijab berarti “penghalang”. Jika ditarik benang merah, intinya hijab adalah pembatas, penghalang antara sesuatu dengan yang lain dan jika mengacu pada hijab fisik yang digunakan pada saat syuro maka definisinya adalah pembatas antara ikhwan dan akhwat agar tidak terjadi ikhtilat.
Intinya adalah, hijab fisik ini digunakan untuk membatasi atau menjaga pandangan. Ayat tentang pentingnya menjaga pandangan kepada yang bukan mahram tertuang dalam surat An-Nur ayat 30-31:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman:”hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31)
Mengambil sebuah tulisan dalam buku terjemahan Al-‘Iffah Madhahiruha wa Tsamaaruha bahwa:
“Sesungguhnya pandangan itu termasuk panahnya iblis, jika seseorang tidak dapat mengekang dan mengendalikan pandangan pertamanya, maka ia akan menggiringnya ke jeratan nafsu. Ia akan bersemayam, dan memperkeruh suasana hatinya, menimbulkan angan-angan dan ilusi serta membangkitkan nafsu birahi. Hal ini menjadikan hati sakit dan melemahkan badan...”
Sejujurnya saya termasuk orang yang fleksibel. Yang ketika syuro, ada hijab atau tidak ada hijab saya sih oke saja. tapi mencermati tulisan diatas bahwa salah satu panah iblis adalah pandangan yang kemudian dapat membawa angan-angan seorang anak manusia kemana-mana memang ada benarnya. Sering kita mendengar “dari mata turun ke hati”, iya kalau turun ke hati, bagaimana kalau setan sukses mengubah menjadi “dari mata turun ke kemaluan”? waduh...celaka dunia akhirat kita.
Perlu diingat, ALLAH berfirman:
“(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus”
kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur” (Q.S. Al-A’raf: 16-17)
Iblis akan datang menggoda anak adam dengan segala macam cara bahkan dari segala arah. Salah satunya tentu pandangan-pandangan yang terkadang tidak terjaga tadi.
Memang, tipe orang berbeda-beda, ada yang berargumen bahwa mereka tidak akan terpengaruh apalagi sampai terbawa nafsu ketika terjadi pandangan ke yang bukan mahram dalam waktu yang cukup lama. Saya juga tipe seperti itu. Tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba mencegah segala akses masuk godaan setan.
Lantas, setelah melakukan perenungan dan sedikit studi, saya bisa menjawab pertanyaan teman saya “Ah elu mah. Sekarang coba pikir, pas rapat pake hijab, sok-sok-an gak pandang-pandangan, tapi entar liat aja diluar setelah rapat. Paling say “hai”, say “halo” lagi. Hai akhi, hai ukhti lagi. Tetep aja diluar bisa deket. Jadi buat apa”.
Maka suatu ketika saya jawab degan balik bertanya: “Lu ngapain nyuci baju?”
“Ya kan kotor. Dicuci biar bersih”
“Lah kan ntar kotor lagi. Ngapain dicuci kalo ntar kotor lagi”
“Yah tetep dicuci lah. Namanya juga siklus hidup. Sama aja kayak ngapain lu nyapu halaman rumah lu ntar kan kotor lagi.”
“Nah pinter tuh elu. Sama aja kayak iman kita coy. Mau lu upgrade kayak apa ntar ya pasti ada aja celahnya setan masuk nyebarin virus. Tapi kan tugas kita untuk terus memperbaharui iman dan mencegah sekecil apapun kemungkinan setan bisa nyebarin virus jahatnya. Sama aja kayak hijab. Hijab fisik buat rapat itu salah satu upaya membatasi ikhtilat. Jika nanti terjadi ikhtilat diluar itu ya karena tidak adanya upaya buat ngebatasin ikhtilat itu. Ya kalo bisa ya hijab fisik itu ada dimana-mana, tapi kan ya susah. Ya udah intinya yang bisa dilakonin, lakonin dulu, bray!”
Temen saya itu menggut-manggut. Namun ia bertanya lagi.
“Soal komunikasi waktu rapat gimana. Tetep aja hijab itu ngehalangin koordinasi antar panitia. Terutama ikhwan dengan akhwatnya”
Dan saya langsung bisa menjawab.
“Woy ini 2013. Sound system ada dimana-mana. Pake sound! Taro tengah-tengah. Colokin mic. Selesai. Jadi yang harus dilakukan para aktivis dakwah itu ngakalin gimana caranya komunikasi tetep terjaga tapi ya hijab tetep ada.”
“Lah kalo lembaga dakwahnya gak punya uang buat beli sound?”
“Bodo amat! Salahnya kenapa miskin. Kudu kaya dong. Usaha. Ya kali lembaga dakwah mau miskin mulu. Ato tereak-tereak kek. Inget. Cari sound, colokin mic, puter volume maksimal TINGGAL NGOMONG DAHHH!!” teriak saya langsung di telinganya.
Alasan lemahnya koordinasi yang terjadi saat rapat dengan menggunakan hijab karena suara yang terkadang tak terdengar dengan jelas hendaklah diatasi sebaik mungkin oleh para aktivis dakwah. Salah satunya dengan kehadiran sound system. Tidak usah sound yang mahal, cukup sound berupa wireless toa portable yang mudah dibawa kemana-mana. Ingat, selalu ada jalan jika kita mau berpikir dan berusaha.
Jadi hijab fisik? Penting gak? Ya saya kembalikan ke anda.
Referensi:
Zulkifli (Ed). ‘Iffah: Bekal bagi Muslim dan Muslimah di Masa kini. Yogyakarta: ‘Izzan Pustaka
“Hijab.” Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2008. KBBI Online. Web. 20 Maret. 2013.
*Artikel ini sebelumnya pernah dipublikasikan di EraMadina.com
picture taken from: mediasholeha.files.wordpress.com
Saturday, May 25, 2013
HIJAB FISIK? Emang penting hah?*
By Afi at 10:46 PM
Tentang Afrizal Luthfi Lisdianta
Mahasiswa S1 Sastra Inggris UGM aktif dalam sepakbola, taekwondo dan musik serta organisasi mahasiswa di kampus. Hidup dengan prinsip “Biar Brutal Yang Penting Taqwa”. Silakan add Facebook atau kunjungi blognya afrizaluthfiblog.blogspot.com
-


