News Update :

Wednesday, February 13, 2013

MARI LAWAN VALENTINE

By at 1:19 PM
send email
print this page
Seperti halnya pro-kontra tentang mengucapkan selamat pada hari raya natal, isu perlawanan terhadap hari valentine juga tidak akan pernah berakhir  dan akan terus dibahas setiap tahunnya. Begitu bulan februari tiba, maka isu terhangat yang akan mengemuka di kalangan pejuang dakwah adalah bagaimana melawan hari valentine dengan cara yang ampuh.

Terlepas dari kemungkinan besar bahwa para pejuang dakwah telah tahu sedikit banyak tentang sejarah hari valentine, mari sedikit membahas kembali tentang apa sebenarnya hari valentine itu. Sebenarnya begitu banyak versi asal-muasal hari valentine ini. Yang paling umum ada dua, yaitu yang

Ada pula yang mengacu pada perayaan yang telah dilaksanakan jauh sebelum waktu masehi tiba, yaitu pada masa athena. Dikatakan bahwa perayaan ini tidak memiliki tanggal yang pasti namun diperkirakan terjadi antara januari dan februari yang lebih familiar disebut dengan bulan gamelian, sebagai sebuah perayaan pernikahan dewa zeus dan hera. Bahkan sejarah dari ranah roma pun ada beberapa versi. Salah satunya selain versi valentine tadi, ada pula versi roma kuno yaitu pada tanggal 15 februari, adalah hari raya lupercalia atau hari raya dewa lupercus, sang dewa kesuburan dengan penggambaran seorang dewa setengah telanjang berpakaian kulit kambing.

Namun yang jelas, sebanyak apapun versinya, sebenarnya umat muslim tak perlu ambil pusing. karena fakta sejarah menyebutkan bahwa budaya valentine ini datang dari luar Islam. Tak akan ada versi sejarah yang menyebutkan perayaan ini datang dari Islam. Tapi tentu sudah menjadi rahasia umum, keprihatinan muncul karena sebagian besar umat muslim masih latah untuk ikut merayakan hari valentine ini. Umat muslim yang dimaksud tentu bukan umat muslim keseluruhan melainkan umat muslim yang bisa dikatakan kurang pengetahuan agamanya. Yang paling jelas terlihat adalah anak-anak SMP atau SMA yang emosinya masih sangat labil atau ada pula yang menamakannya dengan istilah “anak alay”. Ya, anak-anak dengan label alay inilah yang biasanya menjadi korban perayaan hari valentine. Hingga bagaimanapun juga, sikap tidak usah ambil pusing tadi mau tak mau harus menjadi ambil pusing karena sudah kewajiban kita sesama muslim untuk saling mengingatkan. Maka alangkah baiknya jika mengingatkan tentang menjauhi hari valentine ini disebarkan ke teman-teman kita yang belum paham.

Pertama, mari ingatkan sekali lagi bahwa valentine bukan sama sekali datangnya dari Islam. Sama saja halnya dengan kita ikut merayakan hari raya orang non muslim seperti natal atau perayaan tahun baru misalnya. Sebagian besar pula, kalangan muda memang belum paham betul sejarah perayaan valentine. Karena itu mari berkaca pada ayat ini:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra 36)

Bukan hanya pada perkara ini saja, manusia memang seringkali ‘latah’ dan langsung ikut-ikutan mengikuti mode yang sedang ‘on’ disekitarnya. Hal ini tentu tidak diperbolehkan. Apapun itu, semuanya harus ditelusuri dulu asal muasalnya. Karena itu penting untuk mengingatkan bahwa asal muasal valentine bukanlah dari Islam.

Yang kedua, ingatkan bahwa valentine hanya membawa pada kemudharatan. Mungkin tidak sepenuhnya ‘hanya’ tapi 90 persen tentu membawa kemudharatan, lebih-lebih kemaksiatan. Mari dicermati, sebanyak apapun versi sejarahnya, sebenarnya perayaan ini tidak dimaksudkan untuk dirayakan sebagaimana yang kini dirayakan oleh umat manusia. Ambil contoh versi athena misalnya. Sejarahnya adalah pernikahan dewa zeus dan hera. Ya pernikahan. Artinya cinta yang resmi dan baik dipandang dalam norma agama dan norma masyarakat manapun. Lalu misalnya kisah valentine. Valentine memperjuangkan hak-hak orang yang ingin menyatukan cintanya lewat pernikahan hingga ia menikahkan para pasangan secara sembunyi-sembunyi padahal kekaisaran melarangnya. Sama seperti versi pertama, ini tentang cinta yang baik dipandang secara norma agama dan masyarakat.

Tapi faktanya, perayaan itu sendiri sudah bergeser maknanya. Sekarang bukan rahasia umum lagi kalau valentine adalah perayaan untuk menghalalkan segala bentuk kasih sayang antara pasangan (lebih cenderung ke pasangan muda yang belum halal ikatannya, biasanya pacaran) yang sedang dimabuk cinta. Lantas, hal-hal yang diharamkan, seperti yang paling mengerikan adalah hubungan badan antara pasangan yang bukan mahram dianggap sah-sah saja dilakukan ketika hari valentine tiba. Na’udzubillahimin dzalik. Padahal seharusnya, seandainya saja jika orang-orang merayakan valentine, maka semangat yang ditimbulkan adalah SEMANGAT PERNIKAHAN! Kan dewa zeus menikah, lalu valentine juga menikahkan orang. Iya nggak? Bukannya malah mesum! Mesum alias zina tentu dilarang. Dasarnya adalah

“Dan janganlah engkau mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk”. (Al-Isra’ : 32)

Satu bukti lagi bahwa valentine hanyalah karangan untuk menghalalkan nafsu bejat syaithon adalah mari kita lihat, apakah ada pasangan suami dan istri yang sudah menikah, apalagi yang sudah dikarunia anak, merayakan valentine? Jikapun ada pasti jumlahnya sangat minoritas dibanding mereka yang belum halal hubungannya. Jikalau kasih sayang, tentu harusnya kasih sayang pasangan suami istri itu harusnya lebih besar. Atau apakah ada anak yang memberikan coklat kepada orang tuanya sebagai bentuk kasih sayangnya? Atau sebaliknya? Jawabnya nyaris tidak ada.Maka terbuktilah bahwa valentine yang dirayakan selama ini hanyalah pembenaran untuk melegalkan aktivitas mesum. Dan bodohnya lagi, umat islam justru ikut-ikutan. Ingat, hindarilah kerugian akan waktumu.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh” (Al-Asr 1-3)

Yang ketiga, yang akhir tapi bukan yang terakhir adalah dukung perlawanan atas hari valentine. Sebuah aksi yang patut kita apresiasi dan dukung adalah pencanangan “hari menutup aurat” pada tanggal 14 februari, yang bahkan direncanakan untuk dicanangkan secara internasional.  Pencetusan hari menutup aurat ini dikreasi oleh Teachers Working Group Indonesia (TWG) yang memang dimaksudkan untuk melawan hari valentine.

Namun ada beberapa pihak yang bersuara sumbang tentang pencanangan hari ini. Kritik muncul bahwa nanti orang-orang beranggapan bahwa menutup aurat hanya khusus pada hari itu dan setelahnya maka aurat bebas dibuka. Mari bersikap bijak, pencetusan hari menutup aurat adalah untuk MELAWAN HARI VALENTINE. Mengapa? Karena cara-cara lama seperti memunculkan tulisan-tulisan, menyebarkan selebaran dan tulisan serta berkoar bahwa “VALENTINE ITU HARAM!” dirasa belum maksimal memusnahkan budaya valentine khususnya pada benak umat islam. Karena sesungguhnya, kita memang butuh alat untuk melawan sesuatu. Alat itu pun bentuknya harus nyata. Umpamanya begini: ketika berteriak pacaran tidak dibenarkan, maka haruslah ada solusinya, yaitu pernikahan.  jika boleh meminjam istilah yang cukup populer, daripada terus mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin harapan. Sama halnya dengan pencanangan hari menutup aurat ini, adalah lilin harapan yang kita munculkan untuk menghapus kegelapan yang telah ditimbulkan oleh buruknya dampak dari perayaan hari valentine.

Perlu ditambahkan, sebagai perumpamaan, saat hari raya kemerdekaan tiba, tepatnya tanggal 17 agustus, semua orang merayakannya dengan label “hari kemerdekaan Indonesia”. Lantas apakah setelah hari itu Indonesia tidak merdeka lagi? Tentu tidak, Tentu indonesia terus merdeka. Sama halnya dengan hari “menutup aurat” ini. Setiap hari tentu harus menutup aurat. Tapi dicetuskanlah hari peringatannya yang kemudian dibesarkan publikasinya setiap menjelang bulan februari hingga jatuh harinya saat 14 februari. Ingat, Esensi dari hari raya menutup aurat ini selain untuk melawan pengaruh buruk hari raya valentine juga untuk terus mengajak pada kebaikan. Maka, mari kita sama-sama dukung.

Akhir kata, mari kita sama-sama untuk terus saling mengingatkan. Karena sesungguhnya saling mengingatkan dalam kebaikan adalah bentuk nyata dari kasih sayang yang sesungguhnya.



Referensi:

http://remaja.suaramerdeka.com/2012/02/13/asal-mula-valentine-day/

http://www.fimadani.com/lawan-valentine-dengan-aksi-menutup-aurat/

http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kasih_Sayang

The old World Book Encyclopedia. 1966. (Valentine’s Day. Volume 19.)
pertama, ada yang mengacu pada perayaan yang dilakukan untuk memperingati kisah seorang bernama pendeta bernama valentine. Dikisahkan, valentine adalah pejuang cinta para pemuda-pemudi yang ingin mengabadikan cintanya lewat pernikahan, dengan menikahkan mereka secara sembunyi-sembunyi dikarenakan saat itu pernikahan dilarang untuk kepentingan militer kekaisaran.

picture taken from: nanimodekiru.blogspot.com

Share This :
-
 
© Copyright 2010-2011 Donasi untuk Dakwah All Rights Reserved.
Design by Borneo Templates | Sponsored by Wordpress Themes Labs | Powered by Blogger.com.